Wednesday, May 18, 2016

DARI JOGOKARIYAN YOGYAKARTA

Oleh: Ust. Salim A Fillah
Edisi: #Berkhidmat_UntukUmmat

Faktanya..
Negeri kita memiliki lebih dari 1 juta Masjid besar maupun kecil.. // Pertanyaannya adalah..: "Berapa Masjid kah yang menjadi BEBAN bagi Jama'ah dibandingkan dengan Masjid yang MEMBERDAYAKAN Jama'ah..?" // Maka jawabannya adalah..: "Ratusan ribu Masjid membebani Jama'ah untuk listrik.. air.. dan kebersihan.. padahal pemanfaatannya hanyalah shalat dan shalatnya pun tak pernah penuh.." // Disamping itu.. // Aset Masjid berupa Jutaan meter persegi tanah dan bangunan dinilai dari aspek apapun (serasa) masih sangat tak produktif.. padahal.. soal Masid adalah ideologi sekaligus substansi Peradaban Islam.. //

Tapi baiklah..
Kita masuk pada langkah strategis dan praktis yang ditempuh kami di Masjid Jogokariyan Yogyakarta.. // Bahwa secara sederhana.. Manajamen Masjid memiliki 3 langkah..: Yakni Pemetaan.. Pelayanan.. dan Pemberdayaan.. //

Setiap Masjid harus memiliki Peta Da'wah yang jelas.. wilayah kerja yang nyata.. dan jamaah yang terdata.. // Pendataan yang dilakukan Masjid terhadap jamaah mencakup potensi dan kebutuhan peluang dan tantangan.. kekuatan dan kelemahan.. // Kami di Masjid Jogokariyan Yogyakarta meng-inisiasi SENSUS MASJID.. yakni berupa pendataan tahunan yang hasilnya menjadi Data Base dan Peta Da'wah komperehnsif.. //

Data Base dan Peta Da'wah Masjid Jogokariyan Yogyakarta tak hanya mencakup nama KK dan warga.. pendapatan.. pendidikan dll.. tetapi juga sampai pada siapa saja yang shalat dan yang belum shalat.. yang shalat di Masjid dan yang belum shalat di Masjid.. yang sudah berzakat atau belum.. yang sudah ber-qurban atau yang belum.. yang aktif mengikuti kegiatan masjid atau belum.. yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana.. pokoknya detail bingitz.. ^_^

Dari Data Base diatas kita bisa tahu..
Bahwa dari 1030 KK (4000-an penduduk sekiar masjid) yang belum shalat tahun 2010 ada 17 orang.. // Lalu bila dibandingkan dengan data tahun 2000 yang belum shalat 127 orang.. // Dari sinilah perkembangan Da'wah selama 10 tahun terlihat.. //

Peta da'wah Masjid juga memperlihatkan gambar kampung yang dirumah-rumahnya berwarna-warni.. warna hijau berarti SANGAT MENDUKUNG da'wah.. warna hijau muda berarti CUKUP mendukung Da'wah.. warna kuning berarti "netral" terhadap Da'wah.. sedangkan warna merah berarti MUSUH Da'wah.. // Di tiap rumah ada juga atribut iconik.. icon Ka'bah berarti sudah berhaji.. icon Unta berarti sudah ber-Qurban.. icon Koin berarti sudah berzakat.. icon Peci dlsb.. // Konfigurasi rumah sekampung itu juga biasa dipakai tuk mengarahkan para Ikhwah da'i yang juga sedang cari rumah.. //

Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat unit Usaha agar tidak menyakiti jamaah yang juga memiliki bisnis serupa.. // ini harus dijaga.. misalnya tiap pekan Masjid Jogokariyan biasa menerima ratusan tamu.. sehingga konsumsi tuk tamu di-orderkan gilir pada jamaah yang punya rumah makan.. //

Data jamaah juga digunakan tuk Gerakan shubuh Berjamaah.. // Pada tahun 2004 dibuat Undangan Cetak layaknya Undangan Pernikahan tuk Gerakan Shubuh.. // By name.. UNDANGAN: "Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara.. dalam acara Shalat shubuh Berjamaah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan.." // Undangan itu dilengkapi hadis-hadis keutamaan Shalat Shubuh.. hasilnya..?? Silahkan mampir ke Masjid Jogokariyan untuk merasakan Jamaah Shubuh yang hampir seperti Jamaah Shalat Jum'at.. //

Sistem keuangan Masjid Jogokariyan juga berbeda dari yang lain.. // Jika ada Masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan.. maka Masjid Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumumaan saldo-infak harus sama dengan NOL Rupiah !! // Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi amal shalih.. bukan tuk disimpan di rekening Bank.. //

Sebab pengumuman infak jutaan akan sangat menyakitkan jika tetangga Masjid ada yang tak bisa ke Rumah sakit sebab tak punya biaya atau tak bisa sekolah.. // Masjid yang menyakiti Jamaah ialah tragedi da'wah.. dengan pengumuman saldo infak sama dengan NOL Rupiah maka jamaah lebih bersemangat mengamanahkan hartanya.. pun kalau saldo Masjid masih jutaan ya Maaf kalau infak jamaahnya nggak semangat.. //

Wifi di masjid Jogokariyan sudah tahun 2004.. dan itu "gratis-tis" // Sehingga Jamaah baik dari anak-anak maupun dewasa tidak perlu repot-repot ke WarNet yang sangat memungkinkan mereka untuk membuka situs yang bukan-bukan.. // Kami juga menyediakan langgar olahraga atau bermain yang terdapat alat olahraga seperti tenis meja dll.. sehingga anak-anak atau remaja atau pemuda yang ingin bermain atau berolahraga di Jogokariyan bisa kerasan atau betah.. timbang "mereka" main atau ber-olahraga diluar masjid yang biasanya waktu mereka saat itu bertabrakan dengan waktu shalat.. // Dan Alhamdulillah.. biasanya kami menyediakan setidaknya 1000 piring sebagai menu buka puasa di Bulan Ramadhan.. juga secara gratis-tis untuk para Jama'ah.. //

Masjid Jogokariyan pada 2005 juga meng-inisiasi Gerakan Jamaah Mandiri.. // Jumlah biaya setahun dihitung.. dibagi 52.. ketemu biaya pekanan.. dibagi lagi dengan kapastas masjid.. lalu ketemu biaya per-tempat shalat.. // Setelah itu disosialisasikan.. Jamaah diberitahu bahwa jika dalam sepekan mereka ber-infak dengan jumlah "segitu" maka dia Jamaah Mandiri.. adapun jika berinfak lebih.. maka dia termasuk Jamaah Pensubsidi.. // Tetapi.. jika dia tidak ber-nfak atau berinfak kurang maka dia termasuk Jamaah di Subsidi.. // sosialisasi ditutup dengan kalimat..: "Doakan kami tetap mampu melayani ibadah anda sebaik-baiknya.." //

Gerakan Jamaah Mandiri Alhamdulillah sukses menaikkan infak pekanan Masjid Jogokariyan hingga 400%.. // Toh ternyata orang malu jika ia beribadah tapi disubsidi..  Demikianlah jika peta.. data.. dan pertanggungjawaban keuangan masjid transparan.. sehingga infak 1000 rupiah pun kita tahu kemana alirannya tanpa diminta pun jamaah akan berpartisipasi.. // Dan tiap kali renovasi Masjid.. Takmir Masjid berupaya tak membebani jamaah dengan Proposal.. sebab Takmir hanya pasang spanduk..: "Mohon Maaf Ibadah Anda Terganggu, masjid Jogokariyan sedang Kami Renovasi.." // Nomor rekening tertera di bawah.. //

Dan sejak tahun 2005 Masjid Jogokariyan sudah menjalankan program Universal Conference Insurance.. dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah sakit atau klinik manapun secara Gratis-tis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan.. // Dan kami juga biasa memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Shalat Shubuh di Masjid Jogokariyan.. // Inilah beberapa output dari program Masjid Mandiri.. artinya semua yang dari jamaah akan kembali ke Jamaah.. //

Satu kisah lagi tuk menunjukkan pentingnya data dan dokumentasi.. // Masjid Jogokariyan punya foto pembangunannya di tahun 1967.. gambarnya seorang Bapak sepuh berpeci hitam.. berbaju batik.. dan sarungan sedang mengawasi para tukang pengaduk semen tuk Masjid Jogokariyan.. // Di tahun 2002/2003 Masjid Jogokariyan direnovasi besar-besaran.. kemudian foto itu dibawa kepada putra si kakek dalam gambar.. putranya seorang juragan kayu.. // Kami katakan pada Putra kakek yang ada di foto tadi..: "Ini gambar Ayahanda Bapak ketika membangun Masjid Jogokariyan, kini Masjid sudah tak mampu lagi menampung Jamaah, sehingga kami bermaksud merenovasi masjid, Jika berkenan tuk melanjutkan amal jariyah Ayahanda Bapak, kami tunggu partisipasi bapak di Jogokariyan.." //

Alhamdulillah.. foto tua tahun 1967 itu membuat yang bersangkutan nyumbang RP 1 Miliar dan MAU menjadi Ketua Tim Pembangunan Masjid Jogokariyan sampai sekarang.. // Ajib.. Foto tua yang telah dibingkai indah itu ternyata "seharga" 1 Miliar.. ^_^ So.. kapan mau ke Masjid Jogokariyan..? ^_^

Friday, May 13, 2016

TENTANG REZEKI ALLAH SWT

Seorang ulama berdo'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini :

( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﺯﻕ ﺍﻟﺒﻐﺎﺙ )

"Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats."

Apakah "bughats" itu...?
Dan bagaimana kisahnya...?

"Bughats" adalah anak burung gagak yg baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yg disebut "bughats". Ketika sudah besar dia menjadi gagak ( غراب ).
Apa perbedaan antara bughats ( بغاث ) & gurab ( غراب )?
Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.
Di saat induknya menyaksikannya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu mengintainya dari kejauhan saja.
Anak burung kecil malang yang baru keluar dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.
Lalu bagaimana ia makan dan minum...?
Allah Yang Maha Kuasa & Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.
Allah menciptakan AROMA tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak yang dapat mengundang datangnya serangga ke sarangnya.
Lalu berbagai macam ulat & serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak, & ia pun memakannya.

ماشاءالله

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.
Ketika itu barulah gagak mengetahui itu adalah anaknya, & ia pun mau memberi makannya sampai tumbuh dewasa & bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yg keluar dari tubuhnya pun hilang & serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah Ar Razzaq Yang Maha Pemberi Rezeki.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu, Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain"
(QS. Az-Zukhruf : 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun kamu berada, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

"Sesungguhnya Malaikat Jibril menghembuskan di dalam perasaanku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, takutlah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah.

Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta'atinya."

Oleh karena itu, sebenarnya kurang pantas bila orang orang beriman berebut rejeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya?

Ya Allah, Engkau Pemberi dan Penjamin Rezeki, karuniakanlah kepada kami dan anak cucu kami rezeki yang halal dan barokah.

آمين اللهم آمين

Thursday, April 14, 2016

KULIAH KEMANA?

Oleh: Dr Adian Husaini

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak muncul pertanyaan dari sejumlah orangtua: “Anak saya baiknya kuliah kemana? Atau, “Apakah kuliah di universitas ini atau universitas itu bagus?”  Ada orangtua menyampaikan kasus; anaknya diterima di dua jurusan pada universitas yang berbeda. Mana yang harus dipilih? Dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lazim bermunculan, khususnya usai ujian akhir tingkat SMA. Biasanya, pertanyaan itu muncul terkait dengan proyeksi orangtua atau pelajar tentang masa depan kehidupan dan karir mereka. Hingga kini, gambaran tentang profesi ideal bagi para pelajar termasuk di berbagai sekolah Islam, tampaknya masih belum banyak berubah.

Jurusan-jurusan  — istilah sekarang ‘Program Studi’ – yang menjadi idola pelajar untuk dimasuki masih seperti masa-masa sebelumnya, yaitu Kedokteran, Akuntansi, Teknik Informatika, dan sebagainya.  Jurusan-jurusan ‘agama’ seperti Jurusan Dakwah, Tarbiyah, Ushuluddin, Tafsir-Hadits, dan sejenisnya belum menjadi tujuan utama para pelajar yang memiliki kualifikasi intelektual tertinggi di sekolahnya. Yang cukup ‘laku’ saat ini adalah jurusan Tarbiyah dan Ekonomi Islam, karena dianggap menjanjikan lapangan kerja yang cukup bergengsi.

Walhasil, sesuai dengan arahan berpikir para pejabat di bidang pendidikan, pembentukan suatu jurusan atau  program studi (Prodi) memang masih dikaitkan dengan urusan lapangan kerja atau karir profesi seseorang. Hal itu juga diberlakukan untuk ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin). Jika suatu perguruan tinggi hendak membuka suatu Prodi, maka disyaratkan untuk menjelaskan, lulusannya akan bekerja di mana.

Maka, tidak terlalu keliru jika dikatakan, lembaga pendidikan tinggi utamanya diarahkan untuk menjadi lembaga kursus atau balai latihan kerja. Karena itu, jangan heran, jika sekolah dan universitas kalah profesional dengan lembaga bimbingan belajar atau lembaga-lembaga kursus dalam menyiapkan tenaga kerja.  Lucunya, ada sekolah-sekolah – yang dikatakan —  unggulan masih menyewa lembaga bimbingan belajar untuk membantu siswanya agar lulus Ujian Nasional dengan baik.

Pola pikir pendidikan yang terlalu pragmatis dan materialis sebenarnya tidak sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional, sebagaimana ditegaskan dalam UU No 20 tahun 2003:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi juga menyebutkan, bahwa Pendidikan Tinggi bertujuan: (a). berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; (b). dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; (c). dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan (d). terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”

*****

Begitulah tujuan pendidikan nasional di Indonesia, seperti tertulis secara resmi dalam Undang-undang. Jika dicermati, secara umum, tujuan itu sangat baik, yakni mencetak manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa. Masalahnya, apakah dalam aplikasinya, tujuan itu benar-benar diwujudkan?

Untuk mencapai tujuan pendidikan itulah maka diperlukan tiga unsur penting, yakni: guru/dosen, kurikulum, dan metode pembelajaran. Agar mencapai tujuan pendidikan, yakni membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa, maka haruslah disusun kurikulum yang bisa mengantarkan  anak didik kepada tujuannya.  Logisnya, kurikulum itu harus bersumber dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT). Karena itu, adalah hal yang aneh, jika tujuan pendidikan untuk membentuk manusia beriman dan bertaqwa, tapi kurikulum pendidikannya justru “menolak” wahyu sebagai sumber ilmu.

Contoh mudahnya, sebenarnya keliru dan janggal, mahasiswa Muslim di UI, ITB, IPB, UGM, Unair, ITS dan sebagainya, tidak diajarkan Ulumuddin secara memadai. Para mahasiswa Muslim tidak mempelajari Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Tarikh Islam, dan sebagainya.  Ilmu-ilmu wahyu (revealed knowledge) itu dianggap bukan ilmu (knowledge) sebab tidak bersifat rasional dan empiris.  Masih terjadi antara “ilmu umum” dan “ilmu agama”. Padahal, dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama sebenarnya merupakan model pendidikan warisan penjajah yang sudah out of date. Saat ini, di tingkat TK sampai SMA sudah banyak bermunculan Sekolah-sekolah Islam atau Pesantren Terpadu yang tidak lagi mendikotomikan antara ilmu-ilmu agama (ulumuddin) dan ilmu-ilmu rasional-empiris – yang dalam istilah sekarang disebut “ilmu-ilmu umum”.

Kurikulum pendidikan yang masih memandang wahyu Allah bukan sebagai sumber ilmu adalah kurikulum sekuler yang seyogyanya tidak dipaksakan kepada mahasiswa Muslim. Konsep kurikulum dalam Islam  mengintegrasikan antara ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan ilmu-ilmu fardhu kifayah secara proporsional, sesuai dengan tujuan dan kemampuan pelajar/mahasiswa. IlmuFardhu ‘Ain adalah ilmu yang wajib dimiliki setiap Muslim, seperti ilmu aqidah Islam, ibadah wajib, dan sebagainya. Sedangkan ilmu Fardhu Kifayah adalah ilmu yang wajib dimiliki oleh sebagian Muslim; tidak seluruhnya, seperti ilmu pengobatan, elektronika, tekbik bangunan, ilmu komputer,  dan sebagainya.

Misalnya, untuk anak-anak Muslim super cerdas, bisa ditargetkan, sarjana lulusan UI, ITB, atau IPB, UGM,– minimal —  harus memahami aqidah Islam dan tantangan pemikiran kontemporer,  menghafal al-Quran 10 juz, menguasai bahasa Arab dengan bauk, memahami dasar-dasar Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan sebagainya,  ditambah dengan ilmu-ilmu empiris-rasional, sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, seperti matematika, fisika, statistika, jurnalistik, akuntansi, kedokteran hewan, ilmu gizi, arsitektur, dan sebagainya.

Jadi, seharusnya, untuk mahasiswa Muslim, mereka bisa mendapatkan muatan kurikulum di Perguruan Tinggi dengan komposisi 50:50, yakni 50% ulumuddin (ilmu wahyu/revealed knowledge) dan 50%  ilmu-ilmu rasional-empiris.  Apakah ini mungkin? Kita jawab: sangat mungkin!  Itu sudah banyak terbukti di tingkat SMA. Kini, tidak sulit menemukan lulusan SMA yang sudah hafal al-Quran, menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik, sekaligus juga menguasai mata pelajaran sains kontemporer.

Sayangnya, setelah mereka memasuki Perguruan Tinggi Umum, “ilmu wahyu” mereka tidak berkembang; bahkan mungkin berangsur-angsur memudar, karena tidak mendapatkan media untuk pengembangannya.

Karena itulah, sudah saatnya, Perguruan Tinggi di Indonesia memiliki Pusat Studi Islam yang kuat. Di berbagai Universitas di Barat saja, sejak ratusan tahun lalu sudah dijumpai pusat-pusat studi Islam yang canggih, meskipun semua itu dibentuk untuk tujuan orientalisme secara umum.

Hanya saja, salah satu masalah besar yang dihadapi di Indonesia adalah digunakannya “metode liberal” dalam Studi Islam.  Yakni, metode pengkajian Islam ala orientalis, yang berselubung jargon “metode ilmiah” tetapi ujung-ujungnya menanamkan keraguan dan kebingungan terhadap kebenaran serta menjauhkan mahasiswa dari pembentukan akhlak mulia.

Model pendidikan ulumuddin metode orientalis itulah yang kini banyak dijumpai di Perguruan Tinggi. Yakni, pendidikan ulumuddin yang berselubung jargon ilmiah dan netral terhadap kebenaran. Metode semacam ini sangat meracuni pikiran, karena membuat seorang merasa benar dan bangga ketika ia tidak memihak antara yang haq dan yang bathil. Padahal, setiap Muslim dituntut untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

****

Nabi Muhammad saw  pernah menyampaikan sebuah pesan penting: “Manusia itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik  diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.”(Muttafaq ‘alaih). Juga, sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya pandai mengenai agama (yufaqqih-hu fid-din) dan ia diilhami PetunjukNYa.” (Muttafaq ‘alaih).

Kedua petunjuk Rasulullah saw itu sangat menarik untuk kita cermati. Bahwa, manusia itu laksana barang tambang, seperti emas dan perak. Allah memang menciptakan manusia dengan kualitas dasar dan potensi yang sama. Ada yang dikaruniai kecerdasan super tinggi seperti  Imam Syafii, al-Ghazai, Ibn Rusyd, Ibn Sina, BJ Habibie, dan sebagainya. Ada juga yang diberi potensi kecerdasan sedang-sedang saja. Ada juga yang diberi amanah ringan, berupa tingkat kecerdasan yang sangat rendah. Dengan perbedaan potensi itulah roda kehidupan manusia bisa berjalan.

Allah berfirman: Tsumma latus’alunna yaumaidzin ‘anin-na’im. (Sungguh kalian akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Kiamat nanti atas segala nikmat (yang Kami berikan)).

Orang-orang yang dikaruniai nikmat kecerdasan mendapatkan amanah yang lebih berat ketimbang orang yang kecerdasannya lebih rendah. Orang yang mendapatkan nikmat kekayaan, akan berbeda tanggung jawabnya dengan yang hidupnya serba kekurangan.

Karena itulah, orang yang dikaruniai potensi kecerdasan tinggi memiliki tanggung jawab keilmuan yang lebih tinggi dari orang lain dengan potensi kecerdasan di bawahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, bahwa manusia adalah laksana barang tambang.  Manusia yang kualitasnya emas, di masa jahiliyah, akan menjadi emas juga di masa Islam. Dengan syarat, dia faham agama (mutafaqih fid-din). Sebab, orang yang faham agama adalah salah satu ciri tanda kebaikan yang dimilikinya. Lihatlah bagaimana seorang Umar bin Khathab, Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan sebagainya, yang sebelumnya adalah tokoh-tokoh musyrik Arab lalu menjadi orang-orang hebat setelah mereka memahami Islam dengan baik.

Maka, adalah sudah sepatutnya jika seorang mahasiswa Muslim memahami ulumuddin dengan baik dan juga memahami ilmu-ilmu empiris-rasional yang bisa dijadikan sebagai bekal untuk membangun kemandirian dirinya di masa mendatang.  Untuk mewujudkan itu, pemerintah berkewajiban memberikan jalan agar mahasiswa Muslim memahami ilmu pengetahuan secara proporsional.

Struktur kurikulum di “Perguruan Tinggi Umum” yang  mengajarkan Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya 2 SKS selama masa kuliah. Itu sangat jauh dari kurikulum ideal, dalam perspektif Islam. Seharusnya mahasiswa Muslim diberi kesempatan untuk melaksanakan kewajibannya menuntut ilmu agama dengan memadai. Sekali lagi, ini adalah kewajiban pemerintah sebagai pelaksanaan UU Pendidikan Tinggi.

Pada titik inilah kita bisa memahami, bahwa realitasnya, Pendidikan Tinggi kita masih dihegemoni dengan pola pikir sekuler yang menjauhkan para mahasiswa Muslim untuk mendapatkan ilmu secara benar dan proporsional.  Dalam kondisi seperti ini, menjadi kewajiban orangtua dan calon mahasiswa Muslim untuk memahami konsep ilmu dalam Islam. Bahwa, kewajiban utama seorang Muslim adalah mencari ilmu (thalabul ilmi). Kuliah di Perguruan Tinggi harus dimaknai sebagai salah bentuk thalabul ilmi.  Karena itu, pertanyaan yang tepat bukan “kuliah dimana?” tetapi yang tepat adalah “ilmu apa yang wajib saya pelajari?”

Dengan memahami konsep ilmu dalam Islam, seorang mahasiswa Muslim yang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan, Teknik Arsitektur, dan sebagainya, akan paham ilmu-ilmu apa lagi yang wajib ia pelajari di luar kurikulum resmi di kampusnya?  Sesuai dengan potensi dan kesempatannya, si mahasiswa wajib mempelajari ilmu-ilmu yang dapat meningkatkan dan menjaga keimanannya, untuk menjalankan ibadah dengan benar, dan juga untuk membekali dirinya dengan berbagai kemampuan yang menjadikannya sebagai juru dakwah yang mumpuni.

Dari sinilah kita memahami betapa pentingnya para orangtua memahami konsep ilmu dan ilmu pendidikan Islam. Tujuannya, agar ia dapat mendidik atau mengarahkan pendidikan anak-anaknya sesuai dengan tuntunan Islam. Dalam istilah Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan adalah proses ‘ta’dib’ yang bertujuan melahirkan manusia beradab. Untuk itu, sangat penting memahami konsep adab dalam Islam, agar tujuan pendidikan dapat tercapai.

Jurnal Islamia-Republika (16/5/2013) kerjasama INSISTS-Republika, menurunkan laporan utama sebanyak tiga halaman tentang kurikulum pendidikan yang baik dalam Islam. Salah satu artikel yang menarik ditulis oleh Muhammad Ardiansyah berjudul “Kurikulum Adab dalam Syair Imam Syafii.”  Artikel itu menarik untuk kita simak, sebagai bekal kita dan para orangtua, juga calon mahasiswa yang akan menuntut ilmu.

Berikut ini beberapa adab dalam mencari ilmu dalam syair-syair Imam Syafi’i  yang dikutip dari Kitab Diwân al-Imâm al-Syâfi’i karya Muhammad Abdurrahim (Beirut:Dar al-Fikr, 1995).

(1) Ikhlas Karena Allah: “Siapa menuntut ilmu untuk meraih kebahagiaan negeri akhirat; ia kan beruntung meraih kemuliaan dari Allah yang Maha Pemberi Petunjuk; Maka dia pun akan meraih kebaikan yang berasal dari hamba-Nya”

(2) Meninggalkan Perbuatan Dosa: “Aku  mengadu kepada Wakî’ tentang kelemahan hafalanku;  ia pun memberikan nasehat Agar aku meninggalkan maksiat; Ia memberitahuku pula bahwa ilmu itu cahaya; dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang maksiat.”

(3) Menuntut Ilmu Sejak Dini: “Siapa yang kehilangan waktu belajar pada waktu mudanya;  takbirkan dia empat kali; anggap saja ia sudah mati. Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu dan bertaqwa; Jika dua hal itu tiada, pemuda pun tak bermakna lagi.”

(4) Mencatat Setiap Ilmu yang dipelajari: “Ilmu itu bagaikan binatang buruan, dan menulis adalah pengikatnya;  ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat; Sebab diantara bentuk kebodohan, engkau memburu seekor rusa;  lalu kau biarkan rusa itu bebas begitu saja.”

(5) Sabar Dibimbing Guru: “Sabarlah dengan sikap guru yang terasa pahit di hatimu;  sebab kegagalan itu disebabkan meninggalkan guru. Barangsiapa yang tak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu sesaat; sepanjang hidupnya ia akan menjadi orang hina karena kebodohannya.”

(6) Manajemen Waktu yang Baik: “Takkan ada seorang pun yang akan mencapai seluruh ilmu;  takkan ada, meskipun ia terus berusaha seribu tahun lamanya. Sesungguhnya ilmu itu bagaikan lautan yang sangat dalam, sebab itu ambilah semua yang terbaik dari ilmu yang ada.”

(7) Menikmati Ilmu yang Dipelajari: “Malam-malamku untuk mempelajari ilmu terasa lebih indah daripada bersentuhan dengan wanita cantik dan aroma parfum. Mata penaku yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertasku lebih nikmat daripada bercinta dan bercumbu. Menepuk debu-debu yang menempel di lembaran-lembara kertasku lebih indah suaranya daripada tepukan rebana gadis jelita.”

(8) Bergaul dengan Orang Berilmu dan Saleh: “Bergaullah dengan orang-orang berilmu dan bertemanlah dengan orang-orang saleh diantara mereka; sebab berteman dengan mereka sangat bermanfaat dan bergaul dengan mereka akan membawa keuntungan. Janganlah kau merendahkan mereka dengan pandanganmu; sebab mereka seperti bintang yang memberi petunjuk, tak ada bintang yang seperti mereka

(9) Mengembara Mencari Ilmu: “Mengembaralah! Engkau akan mendapat sahabat-sahabat pengganti sahabat-sahabat yang ditinggalkan. Bekerja keraslah, karena kelezatan hidup adalah dalam bekerja keras. Saya berpendapat bahwa air jika tetap di suatu tempat, ia akan busuk. Jika ia mengalir barulah ia bersih, dan kalau tidak mengalir akan menjadi kotor. Singa,  jika tidak keluar dari sarangnya, ia tak akan dapat makan. Anak panah jika tak meluncur dari busurnya ia takkan mengena.”

(10) Menghargai Pendapat Orang Lain: “Jika anda benar-benar memiliki ilmu dan pemahaman  tentang ikhtilaf ulama dulu dan sekarang. Maka hadapilah lawan diskusimu dengan tenang  dan bijak; jangan sombong dan keras kepala

(11) Tak Pernah Puas dengan Ilmunya: “Setiap aku mendapat pelajaran dari masa, setiap itu pula aku tahu segala kekurangan akalku. Setiap ilmuku bertambah Setiap itu pula bertambah pengetahuanku akan kebodohanku.”

Demikianlah adab mencari ilmu rumusan Imam Syafii rahimahullah, yang kiranya bisa dijadikan panduan oleh para mahasiswa menuntut ilmu, dimana pun ia kuliah. Semoga bermanfaat. Amin

Monday, March 07, 2016

Cinta Sampai Akhirat...

Jika cinta  sudah melekàt, hati ingin menjadi dekat, cintaku padamu tak sebanding emas 24 karat.

Cintaku jauh lebih dahsyat, karena jiwa telah terpikat, tak rela berpisah meski sesaàt.

Meski harus ke alam akhirat, kubawa cintaku bersama maut sekarat, menembus ujian berat, setia menanti sampai kiamat.

Untaian kalimat ini bisa mewakili  (Alm)  ALVI SYAHRI 18 th. yg mengikat janji setia sampai mati. Bukan cinta biasa, cintanya bukan pada gadis jelita, bukan pada artis idola namun cintanya itu kepada al- Qur'an yg mulia. Dia sdh hafal 30 juz sebagai bukti cintanya.

Malam itu Sabtu 28 Agt 2010 dengan temannya ( Alm) Yuliansyah - hafal 20 juz dan ( Alm) Toyib - hafal 10 juz memenuhi undangan khatam al qur'an. Mereka menaiki getek / prahu kecil menuju sebuah mushala tempat acara itu bersama 18 santri lainnya.

Selesai acara para santri kembali dengan menaiki getek menyeberang sungai musi. Ketika hampir sampai sebrang -+ 20 m lagi banyak santri yg hendak mengambil sandal yg tadi di taruh di bagian depan getek, menyebabkn getek tidak seimbang berat ke depan dan terbalik, suasana jadi panik, yg pandai berenang berhasil selamat.
Namun na'as Alvi, Yuliansyah dan Toyib tidak pandai berenang.

Pencarian melibatkan instansi dari Polisi air, Dishub, pihak kelurahan dan kecamatan belum berhasil menemukannya, sampai 3 hari pencarian terus dilakukan. Yuliansyah & Toyib akhirnya ditemukan di sungai yg berbeda jam 7 pagi.
Dan Alvi ditemukan di tempat brbeda. Evakuasi sempat membuat kaget masyarakat dan keluarga karena Alvi ditemukan dalam posisi mendekap al- Qur'an di dadanya. Al Qur'an itu sulit untuk dilepaskan, sampai datang ibunda Alvi yg berujar:
"Ibu ikhlas nak...ibu ridho...sampaikn salam ibu kepada baginda Rosulullah, semoga ibu kelak bertemu dengan baginda di surga. Sekarang lepaskan mushaf ini agar kami mudah mengurusmu..." selesai bicara kepada jenazah Alvi, .....ibunya bisa melepas mushaf al Qur'an tsb.

Ketiga jenazah sama sekali tidak rusak, tidak bengkak dan tidak berbau busuk. Seperti orang yg baru selesai mandi, wajahnya bersih dan tersungging senyum.
Yg paling menakjubkan adalah dari jenazah Alvi tercium aroma wangi..Subhanallah.....

Demikian cinta Alvi kepada al Qur'an sampai di bawa mati. Cinta yg akan memberikan ibunya sebuah istana di syurga, cinta yang akan mengantarkannya pula sampai ke surga. InsyaAllah...


http://palembang.tribunnews.com/31/08/2010/jenazah-alvi-dekap-alquran

Hikmah Kisah Abu Ayyub Al Anshari dan Penaklukan Konstantinopel 1453

Beliau adalah sahabat yang rumahnya terpilih untuk ditinggali oleh Rasulullah saat Hijrah ke Madinah.
Persahabatan Nabi dengan Abu Ayyub Al Ashari, beliau berjihad bersama Nabi, bepergian bersama Nabi, sampai akhirnya Nabi wafat. Abu Ayyub saat zaman khilafah dipimpin oleh Abu Bakar juga terus bersemangat jihad, semangat tadhiyahnya tidak pernah berhenti.
Begitu pula di era Umar bin Khathab juga semangat jihad dan tadhiyahnya tidak surut. Meskipun di sisi lain usia beliau bertambah. Itu pasti. Pada zaman Usman bin Affan beliau juga diberikan rizki umur panjang, ketika Usman menyiapkan tentara untuk menyerang Romawi, umur Abu Ayyub Al Anshari saat itu 86 tahun.
Beliau juga mendaftar ikut berjihad. Karena itu anak anaknya mencoba untuk menghalang halangi beliau: “Wahai Bapak, bukankah engkau telah berjihad bersama Nabi, bersama Abu Bakar, bersama Umar, dan usiamu sekarang sudah tua, sudah renta, sekarang giliran kamilah anak anak Bapak ini yang akan ke medan jihad, antum sudah ada udzur syar’i.”
Karena sudah tua, ada udzur syar’i untuk tidak pergi berjihad. Jawaban Abu Ayyub ini ndalil, sang Bapak berdalil, “Anak anakku, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman infiruu khifaafan wa tsiqoolan, berangkatlah kalian khifaf (dalam keadaan ringan) wa tsiqoolan (atau dalam keadaan berat).”
Ketika Allah memerintahkan kita infiruu, kan tidak membedakan siapa muda siapa tua, tidak membedakan yang sangunya akeh (banyak) atau yang tidak punya sangu. Jadi kalian berangkatlah, Bapak juga berangkat. Saat itu umur beliau 86 tahun. Semangatnya tidak surut.
Ketika kunjungan ke Turki, di dinding Ayya Shafia tertulis hadits disampaikan Nabi pada saat Perang Khandaq, ketika menggali Parit, “Romawi akan kalah dan seterusnya, saat itu Nabi mengatakan: Latuftahannal Qusthantiniyyah (Konstantinopel pasti akan ditaklukkan) falani’mal amiru amiruuha (maka sebaik baik pemimpin adalah yang menaklukkan Konstantinopel), wala ni’mal jaisu dzalikal jais (dan sebaik baik tentara, ya tentara yang waktu itu menaklukkan Konstantinopel).”
Nabi mengatakan ini tahun 627, namun baru terbukti pada tahun 1453. Sekian abad setelahnya. Apa kaitannya dengan Abu Ayyub? Begitu Nabi mengatakan hadits ini, hampir seluruh para sahabat saat mendengar Nabi menyiapkan bala tentara untuk menyerang Romawi semua ikut. Tujuannya apa? Cek katut (agar termasuk) dalam hadits ini, berharap Romawi takluk dan pada saat itu mereka masuk dalam pasukan tersebut. Kalau tidak sebagai pemimpin pasukan (amir) ya sebagai pasukan (jais). Dan ini dijamin masuk surga.
Nabi wafat Konstantin belum takluk, tentara Usamah tidak sampai kesana. Zaman Abu Bakar menyiapkan tentara lagi, semua sahabat daftar belum berhasil menaklukkan Konstantinopel, Di zaman Umar menyerang lagi, tapi juga belum berhasil. Semua khalifah di semua abad pasti menyiapkan bala tentara untuk menaklukkan Konstantinopel. Namun seluruhnya belum berhasil.
Semua sahabat ikut dengan semangat sama, cek katut (agar termasuk) dalam hadits ini. Nah salah satu nya adalah sahabat Abu Ayyub al Anshari ini, beliau juga ikut dalam semua pertempuran dan kalau yang sudah pernah ke Istambul. Bagi yang sudah berkunjung ke istambul, makam/kuburannya sahabat Abu Ayyub Al Anshari tidak jauh/hampir berdekatan dengan dinding/tembok Konstantinopel. Di sebelahnya ada masjid Sulthan Ayyub.
Jadi kalau ada pertanyaan siapakah sahabat Nabi yang kuburannya di Eropa? Jawabannya Abu Ayub Al Anshari. Memang pada zaman beliau wafat belum berhasil menaklukkan Konstantinopel, meskipun sudah menyerang benteng dan berada di dekatnya.
Ada satu peristiwa di mana saat benteng itu di kepung berhari hari, ada usulan salah satunya : “Kita akan bisa masuk ke benteng itu dengan senjata manjaniq (alat pelontar), namun pelurunya jangan peluru mati, harus manusia, sehingga saat sudah terlontarkan masuk, bisa mendobrak pintu benteng, dan pasukan bisa masuk. Hanya itu cara agar kita bisa masuk. Hanya masalahnyasopo wonge (siapa orangnya) yang mau dipakai sebagai peluru hidup.”
Saat itulah Abu Ayyub ngacung (unjuk jari) sayalah orangnya. Para sahabat yang lain mengingatkan bab usia beliau, apa kata beliau, “Setidak tidaknya kalaupun nanti saya dilempar dan tidak sampai kesana, setidak tidaknya saya sudah memberi contoh kepada anak anak muda inilah jihad itu.”
Kelak pada saat penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih dan sempat mengalami kebuntuan maka Sosok Abu Ayyub Al Anshary ini menjadi penggugah Semangat sehingga muncullah strategi Luar Biasa yang kemudian mengantarkan pada kemenangan Spectakuler. Bahwa yang tua tidak akan pernah surut dalam jihad ini, Dadi sing tuwo iki minimal ngekek’i conto.
Jadi kalau kita bicara tentang tarbiyatul aulad, itu ya tarbiyah kita dulu bagaimana. Kenek diconto opo ora (bisa dicontoh atau tidak?). Tarbiyah bapaknya, tarbiyah ibunya diperbaiki dulu, baru kemudian itu bisa dijadikan contoh. Sumber inspirasi bagi anak anak kita untuk aktif di dalam tarbiyah ini.
Minimal kita ini menampakkan wajah nikmatnya berdakwah ini di depan anak anak kita. Itu minimal. Artinya ketika kita pulang liqa’ usahakan wajah kita ketika dilihat anak itu nyenengno(menyenangkan). Berarti anak anak kita dapat inspirasi tarbiyah itu menyenangkan. Liqa’ itu menyenangkan. Yang tidak baik itu ketika pulang liqa’ dalam kondisi payah, pulang dauroah dalam kondisi wajah masam, awut awutan. Anak anak dapat inspirasi : tibake melu bapak iku gak enak (ternyata ikut Bapak itu tidak enak). Capek. Itu tampilan kita pribadi.
Sistem di sekolah kita, saat anak anak merasakan sekolah di sekolah internal kita, mereka merasakan beginilah sekolah yang sesungguhnya. Kembali kita mendapat inspirasi dari Abu Ayyub al Anshari minimalnya kita yang sudah tua tua ini memberikan contoh kepada yang muda muda bahwa semangat jihad ini tidak boleh luntur.
Perintah Menjaga diri dan Keluarga
Yaa ayyuhal ladziina ‘aamanu quu anfusakum wa ahliikum naaro. ‘Wahai orang orang beriman jaga dirimu dan keluargamu dari neraka.’
Ini manhaj tarbiyah kita.. Artinya jangan sampai anak anak kita masuk neraka (na’udzubillah), istri atau suami kita masuk neraka (na’udzubillah) gara gara kita lalai menjaganya. Kan berarti yang diamanati oleh Allah untuk menjadi penjaga, menjadi pengawal adalah kita, terutama di ayat ini secara langsung adalah suami.
Bagaimana kita menterjemahkan menjaga itu? Kalau kita lengah, abai dan kemudian terperosok ke dalam neraka. Harus ada upaya untuk menutup. Jaga makanan/minuman anak yang halal. Memastikan yang dikonsumsi anak anak itu halal. Itu menjaga. Melindungi, menjaga dan menjauhkan dari lingkungan yang tidak baik, yangberpengaruh negatif kepada keluarga kita. Itu bagian dari menjaga.
Menempatkan anak anak kita di tempat/sekolah/perumahan/tempat tinggal yang kondusif bagi akhlaqnya, ibadahnya terjaga hal ini juga bagian dari menjaga dari api neraka. Sehingga yang ditanya oleh Allah di akhirat nanti tentang anak anak kita itu bukan kepala sekolah SIT, bukan murobbi murobbiyahnya, tapi kita. Karena ayat ini kepada kita. Sing ditakoni mene nok akhirat itu orang tua. Mau menyalahkan siapa? Quu anfusakum (jaga dirimu) wa ahliikum (dan keluarga, khususnya anak anak) dari neraka.
Apalagi dengan hadits ini, “Maa min mauludin, illa yuwladu ‘alal fithrah. Fa’abawahu, yuhawidanihi, au yunashironihi, au yumajisaanihi” setiap bayi yang terlahir itu, semuanya lahir dalam keadaan fitrah. Fa’abawaahu (Bapak Ibunyalah), yuwahidaanihi (yang akan bertanggung jawab di dunia dan akhirat, kalau nanti anaknya yang fitrah itu menjadi Yahudi), au yunashironihi (atau menjadi nashrani), au yumajisaanihi (atau menjadi majusi). Itu penyebab utamanya adalah abawaahu(bapak ibunya).
Jangan menyalahkan siapa siapa. Bapak ibunya kemana selama ini. Makanya kaitannya dengan ayat tadi, bayi ini lahir dalam keadaan fitrah, Bapak Ibunya wajib menjaga tetap fitrah, Insya Allah tidak mungkin menjadi seperti yahudi, nasrani atau majusi. Tidak berarti hal ini pindah agama semata, namun perilakunya tidak ada beda dengan mereka. Tidak ada beda perilaku anak muslim dengan anak yahudi. Jadi fungsi penjagaan ini ada pada fa’abawaahu (Bapak Ibu).
Ayah Atau Ibu?
Tanggung jawab ada di pundak kedua orang tuanya. Terus kalau kita detilkan lagi, di Bapaknya atau ibunya? Kalau jawaban bapak bapak biasanya ya ibunya lah. Sebaliknya kalo jawaban ummahat ya bapak bapaknya lah yang bertanggung jawab. Saya tidak bermaksud membela siapa siapa. Tetapi kalau kita perhatikan, dialog dalam Al Qur’an yang melibatkan orang tua dan anak, semua dengan Bapaknya. Tidak ada yang dengan ibunya. Setuju ndak setuju ayatnya begitu. Ini bukan persoalan cocok atau tidak cocok.
Tidak ada satupun ayat yang menyebutkan ibu dengan anaknya dalam hal dialog kependidikan. Mesti bapaknya. Coba lihat percakapan: Ibrahim dengan Ismail, diskusi panjang. Antara bapak dan anak. Memang ada kisah Hajar dan Sarah namun tidak berdialoq dengan Ismail. Yang ada percakapan bapak anak. Waktu mau menyembelih ada dialog, waktu membangun Ka’bah juga bapak anak. Luqman dan anaknya kan tidak ada percakapan ibunya. Istrinya Lukman tidak disebutkan. Namun nasihat Lukman pada anaknya panjang, hampir sehalaman penuh. Dalam surat Lukman.
Siapa lagi? Imran. Bapak bapak juga kan? Kalau ini diambil sebagai sebuah pelajaran maka pelajaran itu justru Al Qur’an mengingatkan dengan berbagai contoh bahwa Bapak bapak harus memperbanyak contoh dan dialog. Memang ada masanya orang tua menjadi teman. Kalau kita ambil pendidikan anak yang diambil dari buku Pendidikan Nabi, 0-7 tahun anak dianggap sebagai raja, semua dituruti, 7-14 tahun anak sebagai tawanan perang semua harus diatur, mulai dikenalkan disiplin dan 14-21 tahun anak menjadi kawan, dan semua perlu didampingi. Jadi sekali lagi yang bertanggung jawab dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat terkait perilaku anak adalah kedua orang tuanya.
Pelajaran dari Ummu Sulaim saat menitipkan Anas bin Malik
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anh berkata:
Ketika Rasulullah datang di Madinah Ummu Sulaim membawaku kepada Rasulullah Saw, kemudian dia memberiku salah satu dari pakaiannya lalu (Ummu Sulaim) datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata “Wahai Rasulullah ini Anas dia anak yang Rajin dan pekerja keras yang akan membantumu, Nabi bersabda, “ Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, berkahilah ia dalam semua yang Engkau berikan kepadanya.” (HR Bukhari)
Hadits ini memberikan sebuah gambaran kepada kita tentang orang tua yang karena kesadaran akan pentingnya Tarbiyah untuk anaknya hadir menitipkan putranya untuk ditarbiyah, orang tua membangun komunikasi yang baik dengan Murabbi putra/putrinya, demikian juga sebaliknya Murabbi juga dengan suka cita menerima binaannya menyambut dengan doa yang demikian Luar biasa.
Ustadz Farid Dhafir, Lc.

Thursday, March 03, 2016

Ada 13 gaya bicara yg harus DIHINDARI

1. Memerintah
2. Mengancam
3. Menceramahi
4. Menginterogasi
5. Melabeli
6. Membandingkan
7. Menghakimi
8. Menyalahkan
9. Mendiagnosis
10. Menyindir
11. Memberi solusi
12. Menyuap
13. Membohongi

Selama ini, pengakuan dari para teman-teman peserta pelatihan (termasuk saya sendiri), dengan mengubah cara bicara, dll, manfaatnya terasa: respon anak positif, lebih nurut, masalah yang ada bisa teratasi. Sehingga kita lebih tenang dalam menghadapi anak dan ga banyak energi keluar utk ngomel. Syaratnya konsisten dan sabar, insyaAllah akan ada respon positif dari anak.

1. Memerintah.
Knp kok kita ga boleh memerintah anak (apalagi disertai bentakan)? Krn, anak jd pasif, ga mandiri, ga ada inisiatif/kreatif, dan ibu jg capek nyuruh2 terus.

Kalo kita ingin anak berbuat sesuatu, ajak, dan terangkan alasannya. ‘Nak, yuk sholat, mama temani’, ‘nak, yuk bereskan mainanmu, biar rmh rapi’. Insya Allah, lama2 akan trbiasa dan atas inisiatif sendiri anak akan melakukan hal2 itu.

Kebiasaan nyuruh2 bikin anak pasif. Misal nilai matematika jelek, jgn disuruh2 belajar atau les. Tapi, ajak bicara/diskusi, usahakan sampai anak menemukan sendiri apa sebab nilainya jelek, dan dia sendiri yg bilang ‘aku ingin les!’ jadi anak ada rasa tanggung jwb, dia les bukan krn ‘disuruh ibu’, tp krn dia merasa perlu les.

2. Mengancam
Para ibu paling ahli mengancam: “kalo gak makan, mama tinggal! Kalo nakal, mama kurung di kamar mandi!” Akibatnya, anak nurut karena takut, bukan karena kesadaran. Anak jadi penakut, mau saja diajak2 hal negatif sama teman2nya karena takut ancaman.

Ada yang bilang, sah-sah saja mengancam anak, toh Allah di Quran jg mngancam dg siksa yg pedih! Jwbnya: ancaman Allah itu kan hukum utk org yg baligh (sdh ada taklif). Utk anak2, kita sampaikan wajah Jamal (indah) Allah dulu.. Nak, sholat..supaya kita disayang Allah.. Nak, Allah itu baik, sudah kasih ini.. itu .. yuk kita berterimakasih.. caranya dg sholat.. Mnrt pnelitian, otak kiri dan kanan anak tersambung syaraf2nya pada usia 9 th, dan saat itu dia bisa mnghubungkan sebab-akibat yg abstrak (“ghaib
”). Jd saat itulah idealnya kita kenalkan “hukuman” Allah, bhw manusia2 yg tidak patuh akan mendapat siksa, masuk neraka. InsyaAllah dg proses ini, anak beribadah dg landasan cinta dan syukur, bukan semata2 takut pd neraka. Amin.

3. Menceramahi.
Jangan suka menceramahi anak ya bu.. Knp? Karena..coba inget2 lg, dulu wkt kecil, kalo diceramahi ibu/bpk..rasanya gmn? Bete, sebel, dan dlm hati bilang ‘sok tau banget!’ Atau ‘cerewet!’ Ya nggak? Lebih baik, ajak anak berdiskusi dalam suasana santai.

4. Menginterogasi
Terutama untuk anak remaja, gaya interogasi malah bikin mereka kesal dan semakin menjauh dari ortu. Anak pulang telat, ibu langsung bergaya polisi, “Darimana tadi? Sama siapa? Ngapain aja? Tadi habis les sama temen2, kalian mampir dulu di cafe ya? Kamu coba-coba ngerokok ya, kok bau rokok?!” Tujuan ortu tentu baik, tapi caranya yang kurang baik.

5. Memberi label/cap
Ibu sering ngomel: kamu lelet, nakal, bandel, ceroboh,dll. Kalo ibu marah biasanya ga puas kalo ga berkata, “kamu kok ga pernah nurut/dengerin ibu sih?!” Memberi cap akan membentuk citra diri anak. Ketika dia dikatai berulang2 bhw dia lelet atau bodoh atau bandel, dia lama2 akan merasa bhw dirinya memang demikian. Dan lama2 dia akan cuek, pasif, dan berpikiran “emang aku ya begini ini, situ mau apa?!”

Jadi biasakan ucapkan kata2 yg membentuk citra positif anak, puji anak sesuai apa yg dilakukan (berlebihan memuji juga tidak baik, akan membuat anak narsis). Ungkapkan perasaan ibu. Misal, “Nak, ibu kesal kalau kamu….”

6. Membandingkan.
Tujuan ibu membanding2kan anak adalah supaya anak termotivasi, “belajar yg rajin dong, kayak kakak..Liat kakak tuh, juara terus, kamu kok engga?”

Bu, ada bbrp kasus ekstrim yg ditemukan guru parenting saya, akibat ibu suka mmbandingkan. Salah satunya, ada prp dewasa, kena kanker parah. Saat diterapi, keluar masalahnya: dia selama ini tertekan krn sejak kecil ibunya ga pernah puas sama dia, selalu banding2kan dg kakaknya.

7. Menghakimi.
Contoh, kakak berantem sama adik, lalu ibu tanpa mau meneliti dulu langsung bilang “kakak jgn nakal sama adik!”, atau anak nilainya jelek, “ini pasti gara2 kamu main game melulu!” Tujuan ibu ngomong gini adalah utk mperbaiki perilaku anak, ya kan? Tapi sayang, cara ini ga ngefek. Anak akan merasa sakit hati (terutama kali dia merasa benar/dituduh secara salah). Lama2 dia merasa ga disayang, disalahin melulu..dst (efeknya akan mirip dg yg sy ceritakan kemarin). Ketika anak msh kecil, kk mgkn msh bisa kita kontrol. Tp ketika sdh remaja, jika komunikasi dg ortu ga bagus, anak akan menjauh dan lebih mndengar kata2 temannya.

Teknik paling ngefek dlm membangun komunikasi dg anak: bertanya (bukan menginterogasi lho) dan dengar jawabannya. Jadi jgn menghakimi, biarkan anak menyampaikan argumen, lalu giring dia utk ambil kesimpulan/penilaian atas perilakunya sendiri. Ini juga berdampak positif: melatih anak berpikir dan menyusun argumen.

8. Menyalahkan.
Ini sering banget kita lakukan dan terasa wajar. Misal anak numpahin minuman di karpet “ya ampun! Kok numpahin minum aja sih? Liat ni karpet jadi kotor! Hati2 dong!”

Mungkin kita bertanya2, emang anak salah, kok ga boleh disalahin? Problemnya ada di gaya bicara. Kalo anak salah ya kita kasih tau, tp bukan dgn menyalahkan (apalagi plus ngomel, marah, atau melabeli “dasar kamu memang ceroboh!”). Seperti sdh sy bilang sblmnya, tujuan kita belajar gaya bicara yg benar adalah agar komunikasi ortu-anak terbangun baik sehingga berbagai masalah besar di masa depan bisa dihindari. Anak yg disalah2in melulu akan tumbuh jd org ga pede, ga kreatif (selalu takut salah), mgkn jd pembohong (daripada disalahin, mending bohong aja),dll.

Ini musti dilatih supaya ibu2 terbiasa. Jd refleks saat anak berbuat kesalahan upayakan bukan berupa “menyalahkan”, coba ganti kalimat lain.. misalnya.. “waduuh.. jatuh ya.. ayo bantu ibu ngelap karpetnya.. ” (pokoknya tahan lidah, jgn sampai meledak nyalah2in). Saat itupun anak sdh tau kok kalau dia salah. Jg jangan ibu langsung bersihkan sendiri, libatkan anak, biarin dia ikut bersihin.ga bersih gpp, kan masih kecil.. Ibu b
antuin bersihkan (bareng2). Di sini ada yg dipelajari anak: menahan emosi (krn anak belajar dg meniru sikap ibu), bertanggung jwb, dan dia tau kalo ga jln hati2, ada akibatnya.

9. Mendiagnosis/menganalis.
Misal tadi, anak jatuh dan minuman di gelas tumpah ke karpet. Ibu ga marah tp bilang gini, “adek tadi pasti jalannya sambil ngelamun ya? Trus, jd ga liat nih ada mainan di atas karpet. Coba kalo td adek jln pelan aja, perhatiin kakinya, jgn sampi kesandung..pasti ga bakal tumpah nih susunya.. ”

Kebayang kalo ibu2 terbiasa ngomong gini..sampai anak remaja masih rajin menganalisis, pasti dlm hati mrk akan bilang “bawel amat sih enak gue! Sok tau banget!” Dlm kondisi gini, ga ngefek ibu2 nasehat ini-itu..krn di pikiran mrk sdh tertanam “ibuku sok tau!” Gawat kan?

Nah, yg sebaiknya dilakukan adalah BERTANYA (bukan interogasi ya). “Waduh..adek kok nilai matematikanya jelek?” (Biarkan anak mnganalisis sendiri..jgn lgsg bilang “ini pasti krn kamu males bikin PR!”) Bila komunikasi terjalin baik, anak terbuka curhat..misal mmg dia ga paham penjelasan guru.. Lalu tanya lagi : “menurutmu, jalan keluarnya apa ya?”

Jadi kalo akhirnya anak les, itu atas kesadaran si anak (dan dia jd senang mnjalaninya) bukan krn hasil analisis ibu “ini pasti gurumu emang payah.. udah, mulai besok kamu les aja!”

10. Menyindir.
Ibu2 sendiri kalo disindir org enak ga? Pasti kesel kan? sayangnya banyak jg ibu2 yg sukan nyindir orang.. juga nyindir anaknya. Anak2 yg disindir ibunya pun tetap sakit hati, merasa terhina, dan merasa disalahkan.

Contoh: anak lagi sibuk baca buku cerita, pdhl rumah berantakan atau blm cuci piring. Ibu sambil beresin rumah, bilang “duh, tuan putri, santai banget nih baca buku.. emang enak ya jd putri, ada pembantu yg ngurusin semuanya!”

11. Memberi solusi.
“Udah, kamu bobo aja, biar ibu yg beresin mainanmu.”… “ya, sini biar ibu yg bikinin prakarya-nya, kamu kerjakan PR yg lain”… Anak udh di sekolah, sms, buku PR ketinggalan..ibu buru2 nganter PR ke sekolah. Anak mau ujian, buku ga ketemu… sambil ngomel, ibu bantu cariin dan ketemu (kalo ga ketemu, ibu yg pinjem dari anak temennya, lalu ibu yg fotokopi). Sibuk bangeeeet.. ya kan?

Padahal, kita ibu2 nih udah banyak urusan:.masak, nyuci, ngitung duit belanja (dan stress kalo duit ga cukup), taklim, kerja, dll. Masa mau sih merepotkan diri utk hal2 yg seharusnya diurus sendiri oleh anak? Kebiasaan memberi solusi pada anak, selain merepotkan diri sendiri juga mendidik anak jd pribadi manja, bergantung ke orang, tdk bertanggung jawab, ga kreatif mencari solusi utk problemnya sendiri. Maka, stop berusaha jadi SUPERMOM yg selalu ingin kasih solusi.

Kalo ada masalah, ajak diskusi: menurutmu apa yg sebaiknya kamu lakukan? Bantu anak menemukan solusi masalah, biarkan dia berlatih mikir, bukan kita menyuapinya dg solusi. Saat dia sdh memilih solusi, fasilitasi, dampingi. Misal, anak ga  matematika. Tanya: mnrtmu, musti gmn ya? Kalo dia bilang ingin les, fasilitasi. Kalo ga ada uang, bilang ke anak, dorong dia mncari alternatif lain. Misal: aku mau belajar sama paman (kebetulan pamannya mhsw matematika), fasilitasi, misalnya dg cara anter ke rmh paman.

12. Menyuap.
“Kalau adek ga rewel nanti ibu beliin eskrim”.. “Ssst, main dulu sana. Nanti kalo tamunya dah pulang ibu kasih uang bwt beli mainan. Skrg jgn ribut ya! Malu sama tamu”. “Ayo beresin mainannya, ntar ibu kasih hadiah”.. Ehm… siapa yg pernah ngomong gini?

Ibu2… ini namanya menyuap ya. Kita skrg benci sama para pejabat yg makan suap.. tapi kadang kita lupa, sikap senang disuap itu ditumbuhkan oleh ortu… Jgn sampai anak2 kita besar jd penyuka suap, mau kerja kalo ada uang pelicin, dll..naudzu billah..

Tujuan kita menyuap adalah supaya urusan cepet selesai. Krn itu yg musti diingat: mendidik anak itu mmg butuh waktu.. makanya jgn sibuk dg urusan selain anak, biar banyak waktu. Jadi, kalo anak nangis, kita tetap tenang, ga tergoda menyuap. Lakukan antisipasi: saat mau ada tamu, bilang “Nak, nanti ibu ada tamu. Kamu yg tenang ya, jangan rewel. Ibu sayang pada anak yg sopan. Janji ya?” Siapkan segala macam mainan. Kalau anak r
ewel: introspeksi diri..jgn2 emang udah kelamaan ngobrolnya. Tegas saja ke tamu: duh, maaf, obrolannya kita sambung lain waktu ya.. Tapi kalo baru 5 mnt udh rewel, mgkn krn sering disuap, artinya anak ga tepati janji. Katakan baik2: ibu kecewa kamu ga tepati janji.. tlg tunggu 10 mnt lagi, ibu ngobrol dulu dg tamu, lalu main dgnmu. Dan 10 menit, tepati janji ibu. Anak akan belajar mnepati janji.

13 Berbohong.
Ada tamu, ibu males menemui,,bilang ke anak “bilang, ibu ga ada!”. Anak minta jajan, “ibu ga ada uang!” (Padahal ada, tp buat keperluan lain). Anak ga mau makan “ntar ditangkep polisi lho” (selain ngancem, jg bohong, kan polisi ga akan nangkep org yg mogok makan). Akibat dr bohong.. ya kita semua udahtaulah. Kita benci dibohongi (apalagi sama suami:D), masa kita latih anak kita jadi pembohong?!

Nah, sekian dulu.

Saran: utk selengkapnya, baca buku Amazing Parenting karya Rani Razak Noeman.

Sunday, February 21, 2016

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja....

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, "Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian." Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, "Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…"



Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….



Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga 'tonjok-tonjokan'….



Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, "Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…"



Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua isteri dan isteri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga isterinya dan isteri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…



Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau isteri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan isteri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…



Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang isterinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan isteri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..



Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang isteri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan isteripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan isterinya…



Keluarga akur itu sederhana saja; Jika isteri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa 'dibuntuti' sedangkan isteri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai...



Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada isteri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap isteri dan marahnya isteri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.



Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas isteri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan isteri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya.



Ust. Abdullah Hadir, Lc

Wednesday, February 10, 2016

MALU PADA SI GANTENG
-dan berjuang menjadi gagah-

by @salimafillah

Saya tercenung-menung membayangkan lika-liku hidup lelaki ganteng itu. Dia mengalami begitu banyak hal di masa lalu yang mungkin, -bagi ukuran psikologi kita hari ini-, dapat menjadi pembenaran untuk kelak berperilaku menyimpang.

Pertama; saat masih menjadi bocah kecil, sibling rivalry (persaingan antar saudara) di dalam keluarganya telah amat parah. Dengki kakak-kakaknya pada dirinya begitu tinggi. Kebencian pada adik sendiri itu meruyak menjadi permufakatan yang amat jahat.

Kedua; dia mengalami percobaan pembunuhan yang amat sadis, dilempar ke dalam sumur menjelang senja. Bayangkan sosok mungil itu direnggut dari Ayah & Bunda yang menyayanginya, terluka, sendirian, sempit, gelap, sunyi. Pengalaman semacam ini amat memicu trauma. Claustrophobia (takut pada ruang sempit tertutup) dan Auchlophobia (takut pada gelap) dapat menjadi gejala yang membayangi hidupnya.

Ketiga; dia menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Kafilah niaga yang tak sengaja menemukannya ketika mengulurkan timba ke dalam sumur bersegera menjualnya sebagai budak dengan harga amat murah.

Keempat; dia mengalami sexual abuse (kekerasan seksual) dari orang yang amat dihormatinya. Nyonya rumah yang muda & cantik itu mengurungnya di ruangan tertutup, menggodanya, & menarik bajunya hingga robek. Lalu ketika Sang Tuan pulang, wanita bertipudaya itu balik memfitnahnya.

Kelima; dia mengalami sexual harrasment (perundungan seksual); ketika dengan niat balas dendam atas pergunjingan para wanita bangsawan padanya, oknum istri pejabat yang menggodanya itu menghimpun sebuah perjamuan, memaksa sang bujang tampil dengan pesonanya di tengah mereka. Para wanita yang mengiris jari itu, memintanya melakukan 'sesuatu' yang dijawabnya, "Duhai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada melakukan apa yang mereka ajakkan padaku."

Keenam; kriminalisasi. Dia harus hidup dalam penjara bukan karena kesalahannya. Dari sebuah kehidupan bangsawan yang megah dan mewah dia dijerembabkan ke dalam sel yang sempit dan jorok. Dia menjalaninya dengan tetap berdakwah pada kawan sejerujinya.

Ketujuh; pengkhianatan. Kawan yang dinubu'atkannya akan bebas dan menjadi penuang minuman raja, telah dipesan agar menyebut tentang dirinya di hadapan sang penguasa demi tegaknya keadilan. Tapi kawan itu lupa. Bertahun-tahun lamanya.

Jikapun sampai di sini saja; bukankah cukup alasan baginya untuk merasa bahwa hidupnya hancur, untuk menyimpan dendam, untuk merasa dunia ini kejam, untuk menyalahkan berbagai pihak & hal, serta untuk melakukan sesuatu yang keji namun selalu ada pembenarannya?

Tapi si ganteng itu memang menakjubkan. Dia tampil untuk menjadi penyelamat negeri dari paceklik mematikan. Dia tampil menanggung amanah yang tak sanggup dipikul orang lain. Dia mampu mengampuni semua yang pernah berlaku buruk dan menjadi sebab segala jatuh bangun dan seak-seok hidupnya. Dia rangkul sebelas bintang, bulan, dan matahari yang hendak bersujud itu supaya bersatu dalam pelukan damai, silatil arham, dan kemaafan.

Si ganteng itu, Yusuf 'Alaihis Salaam.

Maka di awal hikayat Allah menyebut kisahnya sebagai ahsanal qosos "sebaik-baik ceritera". Maka di akhir penceritaan Allah menegaskan bahwa dalam sebaik-baik kisah itu terdapat 'ibrah, pelajaran bagi orang-orang yang mendalam pemahamannya.

Dan kita amat ingin belajar menjadi si ganteng yang amat gagah menghadapi segala ketentuan Allah pada dirinya. Gagah justru karena bersandar kepada Allah. Sebab kuat lemahnya seseorang tergantung siapa sandarannya.

Sepahit apapun hidup kita, segetir apapun pengalaman diri, separah apapun lika-liku yang kita lalui; Yusuf adalah hujjah Allah agar kita tetap gagah menghadapi hidup ini. Semua insan hidup dalam berbagai bentuk ujian. Barangkali bentuknya tak serupa. Pun pula kadarnya berbeda. Tapi hakikatnya tetap sama.

Kepada kawan-kawan yang diuji dengan SSA (Same Sex Attraction) misalnya, menarik mundur garis waktu mungkin memang membuat Anda menemukan pembenaran diri dan sesuatu yang dapat disalahkan. Tapi jalan yang gagah adalah untuk tetap kembali pada Allah, mendengarkan nurani, dan menyimak apa firmanNya tentang tetap nista dan buruknya jalan untuk jatuh ke dalam aktivitas LGBT.

Semua insan diuji baik ketika berhadapan dengan syubhat bagi fikirannya maupun syahwat bagi hawa nafsunya. Rekan-rekan yang normalpun diuji Allah dengan betapa maraknya perzinaan, dan betapa dahsyatnya 'aurat diumbar. Semua diuji, ketika di gadget kita, berpindah dari keshalihan pada kemunkaran hanyalah satu kali klik atau satu sentuh tap.

Maka dibanding mereka, ujian anda hanya ditambah satu hal lagi; bahwa goda-goda syaithani bukan hanya lewat lawan jenis, melainkan melalui yang jauh lebih dekat, lebih akrab, lebih samar, lebih liar, lebih menantang.

Maka jadilah gagah karena selalu terhubung kepada Allah. Jadilah gagah dalam fikir karena syubhat tentang keadaan kita telah disibak oleh Quran. Jadilah gagah dalam rasa karena syahwat yang hendak menarik kita dalam dosa telah selalu kita adukan dengan taubat nashuha dalam hening bersamaNya.

Dia yang memperjalankan Yusuf dalam sebaik-baik kisah, juga menjaminkan sebaik-baik akhir bagi yang berani bertarung untuk menaklukkan syahwat dan hawa nafsunya.

"Dan adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya; maka surgalah tempat tinggalnya." (QS An Naazi'aat [79]: 40-41)

Selamat berhijrah. Selamat berjihad. Selamat menjadi gagah dengan bersandar kepada Allah. Dan selamat menonton "Ketika Mas Gagah Pergi", ‪#‎kmgpthemovie‬, yang di dalamnya ada pesan Mas Fisabilillah untuk "Move on! Moving on where? To what Allah say yes! Yes untuk sesuatu yang lebih baik!"

*Sumber: fb

Friday, January 08, 2016

MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG (CERITA 2)


Tahun 2010 ketika saya bertemu mas Toro di salah satu bank BUMN terbesar, dia begitu bersemangat:
"Tenang mas, besok aku mau bikin Dokter Bakso, wis tak jamin rame.. Aku pun pengen jadi pengusaha!" Katanya
Saya hanya mringis saja.. Hehe
Aah paling basa basi karyawan bank yang pengen punya usaha..
NATO, No Action Talk Only.. Hehe
Nggedabusss.. Nggambleh thok!
Waktu berlalu, 4 tahun tak bertemu tiba-tiba saya ketemu mas Toro di sebuah resepsi nikah, wajahnya begitu cerah prengas prenges. Ketika saya todong mana Dokter Baksonya?
"Allah menunjukkan jalan lain yang lebih luarrr biasa mas, besok aku ceritakan"
Beberapa waktu lalu saya kerumahnya, tercenung mendengar kisah dramatisnya.
"Sudah tiga tahun aku resign dari Bank itu mas, posisi sudah mapan dengan gaji 10 juta perbulan, setahun aku bisa menerima bersih 200 juta termasuk bonus-bonusnya, namun dalam hati terdalam aku gelisah luar biasa, hutangku menumpuk 450juta, kartu kreditku platinum hutangnya puluhan juta. Dan aku setiap hari berkeliling menawarkan hutang-hutang baru kepada nasabahku. Ada yang mengganjal dalam hatiku ketika membaca ayat-ayat Quran tentang riba, ditambah dengan nasabah-nasabahku yang kelimpungan ketika bisnisnya merugi dan tidak bisa membayar cicilan, pihak bank tidak mau tau tetap ditagih untuk membayar.. "
Saya terdiam, karena sayapun pernah mengalaminya. Ketika jatuh tempo membayar terlewati satu hari saja mereka sudah menelpon dan SMS tiada henti.. Risihnya setengah mati. Mereka gak peduli kalo uangnya masih diputar untuk beli bahan baku dan operasional sana sini.
Lanjutnya,
"Bismillah.. Aku niatkan pada Allah membersihkan diri mas, aku resign dari bank ditengah pertentangan kawan dan keluarga, uang pensiunku hangus, aku hanya punya keyakinan.. ALLAH TIDAK AKAN INGKAR JANJI"
Nekat bener ini orang..
"Aku bilang pada istriku mas, rumah kami akan kujual.. Kita ngontrak dulu, kita mundur selangkah untuk melompat maju. Uangnya aku gunakan untuk beli tanah, aku bangun rumah petak dan mulai aku jual. Alhamdulillah langsung laku. Hasil penjualan aku belikan tanah lagi, bangun jual lagi. Begitu seterusnya. Dalam 2 tahun hutangku lunas mas.. Aku sudah bisa membeli rumah ini cash. Semua hutang kartu kreditku juga lunas"
Wow.. Terus?
"Ketika kita yakin seyakin yakinnya dengan kekuasan Allah, kita niat membersihkan diri, jalan akan terbuka luas mas. Tahun lalu aku membeli tanah di dekat Jogja Expo Center, kudiamkan saja. Aku hanya di rumah, anter anak sekolah.. Tiap adzan aku langsung ke Masjid sholat berjamaah. Pokoknya tidak boleh telat.. 10 bulan kemudian tanah itu ditawar orang, aku lepas untungnya 900 juta. Sekarang coba mas, pekerjaan apa yang bisa memberiku gaji sebesar itu dalam 10 bulan?. Aku hanya punya keyakinan ingin bebas riba, ngikut aturan Allah.. Dan sungguh Allah tunjukan jalannya, Allah tidak ingkar janji mas.."
Obrolan siang itu sudah memecah konsentrasi dan rasanya seperti meledakkan kepala, ketika mas Toro mengantar saya ke depan rumahnya, Panther terbaru sudah ada disana.
"Empat tahun lalu aku hanya karyawan bank dengan motor tiger itu, ketika aku ngikut pada aturan Allah, ternyata benar-benar Allah tunjukkan jalannya.. Rejeki itu adaaaa saja, pintu-pintu kemudahan terbuka.
Rumah ini aku beli 500jt, renovasi sedikit habis 100juta, sekarang sudah diatas 1 milyar nilainya.."
Katanya dengan tersenyum, jenggotnya tumbuh, bekas sujud samar di jidatnya..
Lain hari seorang ustadz mengirim capture dari seorang pengusaha di Bogor yang juga melepas aset-asetnya. Dijual demi melunasi hutang, tak peduli lah dengan gaya hidup dan pamer kemewahan kalo itu hanya utangan. Semu dan palsu belaka..
Bener kalo ada yang pernah mengingatkan, bisnis itu bukan hanya soal untung rugi, tapi surga atau neraka..
Satu pesan Nabi yang menampar kita, tinggal kita mau taat atau terus melawannya:
"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya.. memakan RIBA"
-HR Bukhari & Muslim
Maha Benar ALLAH dengan segala firmannya..
@Saptuari
---------
*banyak yang penasaran dengan sosok mas Toro, dikira sosok fiktif. Setelah saya konfirmasi beliau bersedia ditampilkan wajahnya, dan bersedia menjawab jika ada yang mau bertanya.
Nama Panjangnya mas Guntoro, mantan bankir senior yang kerja belasan tahun di salah satu bank BUMN terbesar.
Ini foto dengan mas Guntoro ketika saya undang jadi tamu di acara Kongkow Bisnis di Radio Geronimo FM Jogja.

Semoga menginspirasi..

Wednesday, January 06, 2016

MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG


Kawanku di Jakarta hijrahnya gak tanggung-tanggung, rumahnya yang masih KPR dijual, Honda Jazz putih yang dulu perlente dipakainya pun dijual. Sekarang tinggal di rumah kontrakan, memulai bisnis baru yang sangat berbeda dengan bisnisnya yang dulu.
"Sap, ketika aku menjual semua asetku dan hutangku lunas, ada perasaan plong di hati yang tidak ternilai, bangun pagi rasanya bebasssss... Tak ada sedikitpun mikiran cicilan ini itu lagi. Sebulan kalo dapat uang 20jt, duitnya ya utuh, kebutuhan keluarga paling 5 juta dah cukup.. Gak ada lagi kertas-kertas tagihan dengan nominal dan beban bunga yang bikin nyesek! Dan Allah tidak pernah ingkar janji.. Aku bisa memulai bisnis lagi, bangkit lagi, tanpa harus hutang disana-sini"
Senyumnya begitu lepas.. Tanpa beban.
Kawanku lainnya di Jogja, pengusaha advertising memilih tak pernah tanda tangan apapun dengan surat hutang. Mobil sudah ada dari kantor untuk operasional, wira wiri dia masih setia naik motor, kalo ku goda
"wis dadi boss mbok numpak mobil Mas"
jawabnya cukup sesederhana ini:
"ah Valentino Rossi yang kaya raya aja naik motor kok"
Penghasilannya sebagai pemilik bisnis, penulis buku, dan inspirator di berbagai seminar tentu gampang kalo untuk datang ke dealer, tanda tangan surat hutang, DP 30% dan langsung bawa pulang Innova pun bisa. Tapi itu tidak dilakukannya.. Tetap naik motor, tapi kemarin beli iPhone 6plus harga 14 juta pun cash, beli MacBook puluhan juta pun cash, iPad malah ada yang ngasih.
"Mas aku mau beli rumah nih, tapi cash gak mau hutang.. Sekarang terus ngumpulin uang, ketemu yang cocok bayar.."
"Enak lho gak punya hutang, sholat juga tenang, gak kemrungsung, naik motor juga woles aja tuh.. Gak takut dikuntit debt colector, di rumah juga santai gak ada penagih hutang gedor-gedor rumah" lanjutnya
Mmmm.. Gitu yaa
Ada lagi anak muda yang baru kukenal di Jogja, bisnisnya baru dua tahun tapi tumbuh luar biasa, bangkrut di bisnis jualan jus usai jadi sarjana, sempat galau lalu bangkit dengan bisnis ayam gepreknya. Join dengan kawannya, kerja bareng-bareng memulai usaha, fokus, tekun, gak neko-neko.. Sekarang sehari omzetnya tembus 13-15 juta. Kutanya langsung isi dapurnya, dengan omzet segitu sebulan dapat profit bersih berapa?
"Alhamdulillah mas, bulan kemarin bersih dapat 97 juta"
Wow!!!
"Kalian punya hutang di bank?" Tanyaku
"Sejak awal bisnis kami tidak pernah berhutang, setiap ada untung kami gak ambil, diputer terus, digulung terus, puter lagi, sampai sekarang punya 3 cabang. Kami ingin fokus di bisnis mas, bukan di hutang..."
Anak muda dengan profit nyaris 100jt sebulan itu tetap naik motor ketika berlalu dari hadapanku..
Wahai.. Wahai..
Wahai dirimu yang masih berprinsip hutang itu mulia, numpuk hutang disana-sini, bangga banget dengan aset hutangan yang dipamerkan di semua sosmed, agar dapat label "sudah saksesss!!" dari kawan dan orang sekitar,
inget... kalo engkau tidak mampu membayar hutang akan masuk kategori gharim..
Layak dan berhak dizakati..
Mendapat bagian 2,5% dari harta orang lain seperti fakir miskin.
Mau?
Dan aku jadi saksi, ketika berkeliling kota-kota bertemu dengan banyak pengusaha yang dulu bangga dengan aset-asetnya, sekarang datang dengan wajah murung dalam jeratan hutang tak berkesudahan..
Masih mau terus hidup dalam kepalsuan?

@Saptuari

Monday, January 04, 2016

::: APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN ? :::

Oleh :
Ustadz Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى

Saudaraku saudariku…

Kenapa kita takut untuk menghadapi kematian ?
Padahal kita semua yakin bahwa suatu hari ia akan datang menjemput kita
Mau tidak mau, suka tidak suka… pasti !
Kenapa kita takut untuk menghadapi sesuatu yang pasti ?

Saya rasa semua memiliki jawaban yang bermacam-macam:

Amalnya masih kurang ?
Masih banyak dosa ?
Kesihan sama anak-anak ?
Belum menikah ?
Belum mencapai cita-cita ?

Pada suatu hari seorang tabi’in Abu Hazim Salamah bin Dinar ditanya oleh Khalifah pada masa itu: Sulaiman bin Abdil Malik.

يا أبا حازم ما لنا نكره الموت؟

قال: لأنكم عمرتم دنياكم وخربتم آخرتكم فأنتم تكرهون أن تنتقلوا من العمران إلى الخراب؟

“Wahai Aba Hazim, kenapa kita membenci kematian ?
Maka beliau berkata, “Karena kalian memakmurkan dunia kalian dan merusak akhirat kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari tempat yang makmur ke tempat yang rusak dan terbengkalai”.

SubhanAllah!

Itulah realitanya….
Kita sibuk-sibuk untuk membangun dunia kita
Dari pagi sampai sore, sampai malam untuk dunia
Mau tidurpun masih dunia
Bangun tidur tetap dunia…

Sehingga kita memiliki rumah, mobil, keluarga dan tabungan yang banyak

Sedangkan untuk yang setelah kematian…
Hanya sedikit dari harta kita…sedikit sekali dibanding dengan yang kita simpan
Dilihat dari waktu yang kita gunakan untuk membangun akhirat kita
Sangat sedikit sekali, dibanding dengan waktu kita untuk dunia kita…

Kalau seperti itu…

Pastilah kita takut, untuk berpindah ke rumah yang belum jadi
Tiada taman
Tiada kawan
Tiada makanan
Bahkan yang ada adalah azab dan siksa

Karena kita mencuekinnya…
Tidak merawatnya
Tidak membangunnya

Sepertinya, kita sudah harus mulai merenung kembali kehidupan kita.