Tuesday, September 30, 2014

Indikator Kebahagiaan

Just refresh...



Ibnu Abbas R.A. menjelaskan, ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan di dunia yaitu:



1). QOLBUN SYAKIRUN, atau hati yg selalu bersyukur, yg artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yg berlebihan, tidak ada stress, dan nikmat hati.



2). AL-AZWAJU SHALIHAH, yaitu pasangan hidup yang sholeh/sholihah yg akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yg sholeh pula.



3). AL-AULADUL ABRAR, yaitu anak yg sholeh yg selalu mendo'akan kedua orang tuanya dijamin dikabulkan Allah swt.



4). AL-BIATU SHOLIHAH, yaitu lingkungan yg kondusif untuk iman kita. Rasulullah menganjurkan kita utk selalu bergaul dgn orang2 sholeh yg selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.



5). AL-MALUL HALAL, atau harta yang halal. Bukan banyaknya harta, tapi halalnya harta yg dimiliki. Harta yg halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dlm hidup.



6). TAFAQQUH FID-DIEN, atau semangat utk memahami agama. Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Cinta inilah yg akan memberi cahaya bagi hatinya.



7). BAROKATUL UMUR. Artinya umur yg semakin tua semakin sholeh/shalihah, setiap detiknya diisi dgn amal ibadah. Berkah (selalu menjadi sumber kebaikan).



Mudah2han kita semua dipermudah olehNya untuk mendapatkannya..

Lebah & Lalat

Hidup adalah pilihan  ==



๐Ÿ LEBAH atau LALAT ๐Ÿพ



Mengapa Lebah cepat menemukan bunga๐Ÿ’๐ŸŒป๐ŸŒธ

, sedangkan Lalat cepat menemukan kotoran? ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ



Karena naluri lebah๐Ÿ hanya untuk menemukan bunga๐ŸŒธ,

sedangkan naluri lalat ๐Ÿพhanya untuk menemukan kotoran๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ.



Lebah tidak tertarik pada kotoran. Sebaliknya,  Lalat tidak tertarik pada harum & keindahan bunga.



Alhasil, lebah kaya akan madu, sedangkan lalat kaya kuman penyakit.



Mengapa sebagian orang menjadi jahat,dan sebagian orang menjadi baik?



Karena orang jahat tidak tertarik pada hal² yang baik,

sedangkan.... bila ada hal² yg buruk, menyakitkan, gosip, bohong, permusuhan, mereka menjadi begitu bersemangat untuk menyebarkannya, mereka orang² yang mudah diprovokasi tanpa pikir panjang langsung bereaksi.



Orang baik ialah orang yang tidak tertarik dan tak mau merespon akan hal² buruk, menyakiti, isu yang tak jelas, semua hal yang berbau kejahatan yang sekalipun dilapisi isu agama.



Apa yg dilihat akan menghasilkan apa yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan akan menghasilkan apa yang diperoleh dan diperbuat.

Hidup ini sangat tergantung dengan hati dan pikiran. Jika hati dan pikiran selalu negatif maka apa saja yang dilihat akan selalu negatif, dan hasilnya adalah penderitaan, sakit hati, kecewa, iri hati, sirik.



Ingin bahagia....? Mulailah dengan hati dan pikiran yang selalu positif, maka apa saja yang dilihat akan selalu positif, dan hasilnya adalah kebahagiaan.



Pilihan ada ditangan kita, mau jadi seperti LEBAH ๐Ÿ atau LALAT ๐Ÿพ



....๐Ÿ™..... Selamat Memilih ๐Ÿ’›๐Ÿ’™๐Ÿ’œ

Tuesday, February 26, 2008

Belajar Mengelola Dinar dari Abdurrahman bin Auf

Selain dari diri Rasulullah yang terdapat contoh yang sempurna, kita juga
bisa belajar dari sahabat-sahabat Beliau dalam membangun kemakmuran
Islam yang kita cita-citakan ini.

Salah satu sahabat beliau yang patut kita contoh adalah Abdurrahman bin Auf yang kesuksesannya dalam berbisnis bisa menjadi tauladan bagi seluruh pengusaha muslim saat ini. Dalam hal urusan akhiratpun banyak yang bisa dicontoh dari Abdurrahman ini karena beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Berikut disarikan prestasi-prestasi Abdurrrahman bin Auf :

• Abdurrahman bin Auf termasuk sahabat yang masuk Islam sangat
awal, tercatat beliau orang kedelapan yang bersahadah 2 hari setelah
Abu Bakar.
• Beliau termasuk salah satu dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar
bin Khattab untuk memilih khalifah sesudahnya.
• Beliau seorang mufti yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk
berfatwa di Madinah padahal Rasulullah SAW masih hidup.
• Beliau terlibat dalam perang Badar bersama Rasulullah SAW dan
menewaskan musush-musuh Allah. Beliau juga terlibat dalam perang
Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan disisi Rasulullah SAW ketika
tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medan
peperangan. Dari peperangan ini ada sembilan luka parah ditubuhnya
dan dua puluh luka kecil yang diantaranya ada yang sedalam anak
jari. Perang ini juga menyebabkan luka dikakinya sehingga
Abdurahman bin Auf harus berjalan dengan pincang, dan juga
merontokkan sebagian giginya sehingga beliau berbicara dengan
cadel.
• Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum
muslimin untuk berinfaq di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf
menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar atau sekitar
Rp 2.4 Milyar nilai uang saat ini(saat itu beliau ‘belum kaya’ dan hartanya baru 4000 Dinar atau Rp 4.8 Milyar). Atas sedeqah ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah SAW yang berbuny i “Semoga Allah
melimpahkan berkahNya kepadamu, terhadap harta yang kamu
berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu
tinggalkan untuk keluarga kamu.” Do’a ini kemudian benar-benar
terbukti dengan kesuksesan demi kesuksesan Abdurrahman bin Auf
berikutnya.
• Ketika Rasullullah membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang
mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah
yang lagi dilanda musim panas. Abdurrahman bin Auf memeloporinya
dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas sampai-sampai Umar bin
Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW “ Sepertinya Abdurrahman
berdosa sama keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW
bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan
uang belanja untuk istrimu ?” , “ Ya!” Jawab Abdurrahman, “Mereka
saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan”.
“Berapa ?” Tanya Rasulullah. “ Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala
yang dijanjikan Allah.” Jawabnya.
• Setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas
menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mu’minin (para
istri Rasulullah SAW).
• Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang
dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah
padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut
oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu
juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan dengan
sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham
(sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai
+/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda,
dan 1,500 ekor unta
• Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup
waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 juta)
per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.
• Dengan begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, beliau ketika
meninggal pada usia 72 tahun masih juga meninggalkan harta yang
sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000
ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000
Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8
(istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu
seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang
ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar
atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat !.

Bagaimana Abdurrahman bin Auf bisa sangat sukses berdagang dan juga
dijamin masuk surga ?, berikut adalah yang bisa kita tiru dari beliau :

• Seluruh usahanya hanya ditujukan untuk mencari Ridhla Allah semata.
• Bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari
barang yang haram bahkan yang subhat sekalipun.
• Keuntungan hasil usaha bukan untuk dinikmati sendiri melainkan
ditunaikan hak Allah, sanak keluarga dan untuk perjuangan di Jalan
Allah.
• Abdurrahman bin Auf seorang pemimpin yang mengendalikan
hartanya, bukan harta yang mengendalikannya.
• Sedeqah telah menyuburkan harta Abdurrahman bin Auf, sampai-
sampai ada penduduk Madinah yang berkata “ Seluruh penduduk
Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya.
Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari
hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada
mereka”.
• Keseluruhan harta Abdurahman bin Auf adalah harta yang halal,
sehingga Ustman bin Affan RA. yang sudah sangat kayapun bersedia
menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 Dinar bagi
setiap veteran perang Badar. Atas pembagian ini Ustman bin Affan
berkata, “ Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan
harta itu membawa selamat dan berkat”.

Jadi mengelola Dinar tidak berarti menjadi hamba Dinar. Asal kita dapat kembali ke tuntunan dan contoh langsung dari Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Wallahu A’lam.

from www.geraidinar.com

Dua Manusia Super

Siang ini February 6, 2008 , tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

" Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .

" Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? " mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

" Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .

" Nggak punya , tukas saya !" lalu tak lama siwanita berkata " ambil saja kembaliannya , dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap , ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti , lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget , setengah berteriak ia bilang "sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. " maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar " Om, bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !". " eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya , "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar ". " Nggak apa apa , itu buat kalian " Lanjut saya
" jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga " anak itu bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue
" Buat apa ?" saya terbengong
" Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu " walau dikembalikan ia tetap menolak .

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut " lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..." percakapan itu sayup sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT (dari milis sebelah)

Saya membandingkan keserakahan kita , yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain.
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana , kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Friday, February 22, 2008

Hidup Cukup

Oleh: Radhar Panca Dahana (Buletin Rabbaniyyin)


Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki-ada empal, telur, semur daging, tempe goreng-ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun lebih.

Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelaskopi, dan perkutut. "Tinggal nunggu lohor," tukasnya pendek.

Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki. "Buat apa?" tukasnya. "Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em. Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?" Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. "Abah masih tidur," istrinya balas menegur.

Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya.

Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat, Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih? "Banyak mudaratnya," kilah Pak Haji Edeng.Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.

Alternatif kapitalismeMoralitas berdagang "Bang Uki" tentu bertentangan dengan apa yang kinimenjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana prinsiplaissez faire atau free will dan free market digunakan tak hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang untuk "mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin". Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir tak ada daya tolak atau daya koreksinya.Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya, bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5 miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan atau tidak hari ini.

Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa filantrofisme, yang umumnya hanya berupa "pengorbanan" material yang hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya. George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma dan menerima simpati global di sekian puluh negara.Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya.

Moralitas dasar kapitalisme di atas adalah dasar "legal" untuk meng-amini kekayaan itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau-langsung dan tak langsung-dari merebut jatah rezeki orang lain.Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitudalamnya.

Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia. Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif, marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme. Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan (tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.Ekonomi cukupPrinsip "hidup yang cukup" Bang Uki adalah landasan bagi sebuah "ekonomi cukup", di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia, sebatas Tuhan-yang mereka percaya-menganjurkan atau membatasinya.

Bagaimana "cukup" itu didefinisi atau dibatasi, tak ada-bahkan tak perlu- ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat mengukurnya sendiri dengan jujur: batas "cukup" bagi dirinya. Jika bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun, satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih? Mengapa ia harus melipatgandakannya? Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup, nilai agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi? Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan, sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.Bila pengusaha tersebut berhasil men-"cukup"-kan dirinya, secara langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih jika "kemampuan lebihnya" itu ia daya gunakan untuk membantu usaha atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip "ekonomi cukup", ia akan merasakan "sukses" atau kemenangan hidup yang bernuansa lain jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah pun uang jasa.

Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen-jang kekayaan pun menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan ekonomi.Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula mendefinisikan "cukup" baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku, hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati serta perjuangan tak henti.

Maka, "cukuplah cukup". Kita sederhanakan sebagai prinsip hidup/ekonomi yang "sederhana". Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari- hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita. Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.

Thursday, March 09, 2006

17 KEUNGGULAN

17 KEUNGGULAN
BISNIS NETWORK MARKETING
DALAM DA’WAH TARBIYAH


Anda sebaiknya mempertimbangkan network marketing da’wah Tarbiyah sebagai da’wah perekrutan dan perekrutan da’wah yang menjanjikan. Ada tujuh belas alasan mengapa Anda perlu mempertimbangkan network marketing da’wah Tarbiyah untuk karir akhirat Anda


1.Bekerja menurut jam dan keinginan anda
Seorang pekerja Network Marketing Da’wah Tarbiyah (NMD) pernah mengatakan,”Kenapa saya ikut NMD ?, Karena, di mana lagi saya bisa dapat bonus pahala sebanyak dunia dengan segala isinya tanpa harus absent setiap pagi di kantor?”. Pernyataan tersebut tidak salah sama sekali, sebab anda memang anda dapat mengerjakan bisnis ini kapan saja dan dimana saja anda merasa perlu untuk bekerja mendapatkannya.


2.Modal minimal, tak perlu kantor maupun peralatan mahal
Apabila ingin memiliki sebuah mobil mewah dan istana sendiri, setidaknya anda perlu modal berupa dana yang cukup besar untuk membeli dan mendapatkannya secara langsung. Bahkan sebuah kerjasama bagi hasil yang paling sederhanapun akan membutuhkan investasi yang lumayan besar untuk memulainya.


3.Anda menentukan ‘penghasilan’ anda sendiri
Semua yang akan anda capai dan nikmati dikemudian hari tergantung dari kesungguhan atau komitmen anda, bukan berdasarkan jenis pekerjaan anda. Misalnya berapa gaji seorang manager dengan pengalaman 2 tahun di perusahaan asing? Dua juta? Tiga juta? Atau, mungkinkah seorang office boy mendapatkan ‘penghasilan’ seorang pengacara ? Dalam bisnis konvensional hal tersebut tidak akan terjadi, sebab mereka dibayar berdasarkan JENIS atau tingkatan pekerjaan mereka. Sedangkan dalam bisnis Network Marketing Da’wah Tarbiyah, ribuan orang dari berbagai latar belakang telah terbukti mampu mendapatkan ‘penghasilan’ jauh di atas kemampuannya dibandingkan dengan sahabat atau rekannya yang tidak atau belum mengikuti NMD ini. Apakah anda bisa mempercayai bahwa seorang ibu rumah tangga biasa atau supir truk sampah bisa menghasilkan ‘bonus’ sebesar bumi dengan segala isinya atau setara dengan kendaraan termewah saat ini dalam sekali tugasnya ? Itulah bukti dan kesempatan yang tersedia lewat bisnis Network Marketing Da’wah Tarbiyah.


4.Bekerja untuk anda sendiri, tapi tidak sendirian
Dalam menjalankan bisnis ini anda akan mendapatkan dukungan dan konsultasi dari para ‘up line’ (baca: murobbi/ah) dan pihak ‘atas’ (baca: Allah dengan pasukan-Nya) yang siap memberikan bantuan kapan saja dan dimana saja, bahkan memberikan pembelaan dan ketenangan kepada pribadi anda dan jaringan anda. Oleh sebab itu anda membutuhkan jajaran ‘up line’ yang kredibel dan mampu mengajarkan kepada anda bagaimana mencapai sukses hidup di dunia dan akhirat dengan selamat.

5.Mendapatkan penghasilan yang sifatnya residual dan berkembang secara eksponensial.
Contohnya lihat tabel berikut ini:

Hidup Pada Umumnya
Bekerja Berpenghasilan
Januari Januari
Februari Februari
Maret Maret

Network Marketing Da’wah Tarbiyah
Bekerja ‘Berpenghasilan’
Januari Januari + tak terhingga
Februari Januari + Februari + tak terhingga
Maret Januari + Februari + Maret + tak terhingga
(terakumulatif dengan banyaknya perekrutan NMD yang didapat tanpa mengurangi ‘penghasilan’ ‘downline’)

Penghasilan mana yang lebih anda sukai?
Dengan mengembangkan organisasi/jaringan Network Marketing Da’wah Tarbiyah, hasil kerja anda di masa lampau tidak hilang, bahkan apabila anda mengerjakannya dengan benar, hasil-hasil tersebut terus terakumulasi jauh lebih besar dari apa yang anda bayangkan tanpa meotong sedikitpun nilai ‘penghasilan’ ‘downline’ anda.


6.Tidak perlu membayar franchise-fee atau honorarium
Pada saat bergabung dengan sebuah kerja da’wah yang benar, investasi anda paling-paling adalah komitmen, keikhlasan dan keistiqomahan dalam bekerja dan infaq yang nantinya akan dikembalikan dalam jumlah 700 kali lipat bahkan lebih, baik saat ini maupun di ‘masa depan’. Mungkin anda membutuhkan beberapa materi untuk memulai kerja da’wah anda, tapi jangan menumpuk materi lebih daripada yang bisa anda sampaikan. Bisa jadi karatan atau kopral macet. Sharing itulah kuncinya.


7.Anda sukses dengan membantu orang lain untuk sukses
Suatu keuntungan bagi semua pihak, sedangkan di bisnis konvensional terkadang anda dapat naik posisi apabila teman-teman anda tetap di ‘bawah’. Misalnya, direktur di perusahaan anda memasuki masa pensiun dan anda beserta 5 teman anda adalah calon penggantinya. Maka agar anda terpilih sebagai direktur yang baru, anda harus menjadi lebih tinggi dari teman-teman anda. Dengan kata lain, anda dapat ‘naik’ bila teman-teman anda ‘tetap di bawah’. Dalam Network Marketing Da’wah Tarbiyah justru sebaliknya: anda dapat mencapai ‘sukses’ bila anda bisa membantu banyak orang mencapai ‘sukses’. Struktur bisnis konvensional adalah struktur piramida yang sebenarnya.


8.Tidak perlu mengerjakan akunting dan masalah pembukuan lainnya
Pihak ‘atas’ dan ‘up line’ telah menyediakan semua sistem bagi anda, mulai dari materi, penghitungan sistem bonus, lahan da’wah, training setiap pekan, program ‘promosi’ (biasanya dikenal dengan kenaikan kelas atau level), dll. Jadi fokus anda hanyalah bagaimana mengembangkan da’wah dan menikmati kelezatan iman yang didapat disetiap usaha anda, tanpa anda harus pusing dengan masalah administrasi dan peraturan pemerintah lainnya. Kesemuanya itu akan mengalir dalam pertemuan pekanan yang disepakati.


9.Bekerja dari kenyamanan rumah anda sendiri atau dari manapun anda berada
Inginkah anda dapat bekerja sambil berwisata? Kenapa tidak? Da'i sukses Network Marketing Da'wah tidak tergantung pada suatu tempat untuk mengembangkan dakwahnya, mereka bahkan seringkali mampu menikmati liburan sambil berda'wah.


10.Bisnis keluarga harmonis
Seringkali dalam perusahaan Network Marketing Da’wah Tarbiyah mengadakan promosi tambahan untuk umroh atau haji keluarga, misalnya. Nah, kini target tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh keluarga untuk mempromosikan dan mengembangkan bisnis Network Marketing Da’wah Tarbiyah tersebut. Dengan kata lain, kini seluruh anggota keluarga dapat bekerja sama sebagai suatu tim dengan tujuan yang sama, sehingga hubungan keluarga semakin harmonis.


11.Tidak ada wilayah yang dibatasi
Anda bahkan didukung oleh pihak jaringan perusahaan (baca: jama’ah) yang ada untuk mengembangkan da’wah hingga ke luar negeri, sehingga anda bisa mendapatkan ‘ nilai penghasilan’ dari seluruh penjuru dunia tanpa harus pernah ke tempat tersebut dan dari orang-orang yang tidak pernah anda kenal.


12.Tidak perlu memasang iklan
Salah satu kelebihan Network Marketing Da’wah Tarbiyah adalah presentasi langsung kepada ‘konsumen’ (baca: mad’u / objek da’wah) sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Apabila anda membeli suatu produk di supermarket, apakah ada yang dapat memberikan penjelasan dan jaminan kepada anda tentang produk tersebut? Kebanyakan hanya akan terbuai oleh para selebriti yang menjadi bintang iklan produk tersebut, padahal belum tentu selebriti tersebut telah merasakan manfaat produknya. Informasi inilah yang harus anda berikan kepada ‘konsumen’ anda dan sebagai imbalannya anda mendapatkan ‘bonus’ dari ‘Pihak Atas’, ‘menggantikan’ selebriti yangg seharusnya mengiklankan produk tersebut.


13.Pengembalian modal dalam jangka pendek
Network Marketing Da’wah Tarbiyah adalah suatu bisnis yang bisa anda mulai dengan modal beberapa rupiah atau beberapa juta rupiah atau bahkan pada kondisi tertentu nol rupiah. Dengan keikhlasan, etika dan etos kerja (baca: itqon dgn fiqh da’wah) yang benar, anda akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang telah anda keluarkan. Bayangkan bukan hanya BEP yang akan anda dapatkan. Bandingkan dengan bisnis lain yang umumnya membutuhkan investasi ratusan juta bahkan milyaran dan berapa lama serta berapa besar resikonya sebelum anda mampu mencapai break even point?


14.Berkumpul dengan orang-orang yang positif dan bermotivasi
Sikap positif dan motivasi tinggi adalah modal utama untuk mencapai sukses di bisnis apapun. Dalam bisnis ini anda akan menemukan banyak teman yang dapat saling memotivasi pada saat kita membutuhkannya. Bahkan pihak ‘upline’ dapat mengajarkan kepada anda bagaimana anda dapat memberikan motivasi dan membangkitkan semangat kepada orang lain. Network Marketing Da’wah Tarbiyah adalah suatu bisnis yang penuh dengan kesempatan bagi kita untuk mengembangkan kepribadian dan menjadi lebih baik.


15.Tidak perlu pengalaman
Semua program pelatihan telah dirancang dan para pelatihnya (para murobbi/ah) telah disediakan oleh perusahaan (baca: jama’ah) yang bersangkutan. Bahkan anda bisa mendapatkan penghasilan selagi mengikuti masa pelatihan. Bandingkan dengan bisnis konvensional yangg seringkali kita harus memiliki suatu keahlian tertentu yang masa belajarnya bertahun-tahun sebelum dapat mulai bekerja, apalagi mendapatkan penghasilan yang besar.


16.Timing atau pilihan waktu yang prima
Industri Network Marketing Da’wah Tarbiyah saat ini sebesar lebih dari 500 ribu pegiat inti dan terus berkembang sekitar 2 juta pegiat inti sampai akhir 2009. Bahkan sampai tahun terakhir ini akan semakin banyak populasi lebih dari 50 Negara menyadari potensi Network Marketing Da’wah Tarbiyah dan akan segera ikut memanfaatkan tren tersebut. Jadi hal ini merupakan kesempatan bagi anda menjadi pelopor suatu industri raksasa yang akan memimpin peradaban umat manusia.


17.Sinergi usaha yang luar biasa
Mungkin ada beberapa bisnis yang memiliki kelebihan-kelebihan Network Marketing Da’wah Tarbiyah di atas, tapi adakah SATU peluang yang memiliki semuanya? Rasanya Network Marketing Da’wah Tarbiyah masih merupakan sistem wira usaha yang paling menjanjikan.


Bagaimana ? Tertarik ? Hubungi pengirim email ini segera dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa ‘penghasilan’ yang bisa anda dapatkan untuk akhirat anda.