Monday, March 07, 2016

Hikmah Kisah Abu Ayyub Al Anshari dan Penaklukan Konstantinopel 1453

Beliau adalah sahabat yang rumahnya terpilih untuk ditinggali oleh Rasulullah saat Hijrah ke Madinah.
Persahabatan Nabi dengan Abu Ayyub Al Ashari, beliau berjihad bersama Nabi, bepergian bersama Nabi, sampai akhirnya Nabi wafat. Abu Ayyub saat zaman khilafah dipimpin oleh Abu Bakar juga terus bersemangat jihad, semangat tadhiyahnya tidak pernah berhenti.
Begitu pula di era Umar bin Khathab juga semangat jihad dan tadhiyahnya tidak surut. Meskipun di sisi lain usia beliau bertambah. Itu pasti. Pada zaman Usman bin Affan beliau juga diberikan rizki umur panjang, ketika Usman menyiapkan tentara untuk menyerang Romawi, umur Abu Ayyub Al Anshari saat itu 86 tahun.
Beliau juga mendaftar ikut berjihad. Karena itu anak anaknya mencoba untuk menghalang halangi beliau: “Wahai Bapak, bukankah engkau telah berjihad bersama Nabi, bersama Abu Bakar, bersama Umar, dan usiamu sekarang sudah tua, sudah renta, sekarang giliran kamilah anak anak Bapak ini yang akan ke medan jihad, antum sudah ada udzur syar’i.”
Karena sudah tua, ada udzur syar’i untuk tidak pergi berjihad. Jawaban Abu Ayyub ini ndalil, sang Bapak berdalil, “Anak anakku, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman infiruu khifaafan wa tsiqoolan, berangkatlah kalian khifaf (dalam keadaan ringan) wa tsiqoolan (atau dalam keadaan berat).”
Ketika Allah memerintahkan kita infiruu, kan tidak membedakan siapa muda siapa tua, tidak membedakan yang sangunya akeh (banyak) atau yang tidak punya sangu. Jadi kalian berangkatlah, Bapak juga berangkat. Saat itu umur beliau 86 tahun. Semangatnya tidak surut.
Ketika kunjungan ke Turki, di dinding Ayya Shafia tertulis hadits disampaikan Nabi pada saat Perang Khandaq, ketika menggali Parit, “Romawi akan kalah dan seterusnya, saat itu Nabi mengatakan: Latuftahannal Qusthantiniyyah (Konstantinopel pasti akan ditaklukkan) falani’mal amiru amiruuha (maka sebaik baik pemimpin adalah yang menaklukkan Konstantinopel), wala ni’mal jaisu dzalikal jais (dan sebaik baik tentara, ya tentara yang waktu itu menaklukkan Konstantinopel).”
Nabi mengatakan ini tahun 627, namun baru terbukti pada tahun 1453. Sekian abad setelahnya. Apa kaitannya dengan Abu Ayyub? Begitu Nabi mengatakan hadits ini, hampir seluruh para sahabat saat mendengar Nabi menyiapkan bala tentara untuk menyerang Romawi semua ikut. Tujuannya apa? Cek katut (agar termasuk) dalam hadits ini, berharap Romawi takluk dan pada saat itu mereka masuk dalam pasukan tersebut. Kalau tidak sebagai pemimpin pasukan (amir) ya sebagai pasukan (jais). Dan ini dijamin masuk surga.
Nabi wafat Konstantin belum takluk, tentara Usamah tidak sampai kesana. Zaman Abu Bakar menyiapkan tentara lagi, semua sahabat daftar belum berhasil menaklukkan Konstantinopel, Di zaman Umar menyerang lagi, tapi juga belum berhasil. Semua khalifah di semua abad pasti menyiapkan bala tentara untuk menaklukkan Konstantinopel. Namun seluruhnya belum berhasil.
Semua sahabat ikut dengan semangat sama, cek katut (agar termasuk) dalam hadits ini. Nah salah satu nya adalah sahabat Abu Ayyub al Anshari ini, beliau juga ikut dalam semua pertempuran dan kalau yang sudah pernah ke Istambul. Bagi yang sudah berkunjung ke istambul, makam/kuburannya sahabat Abu Ayyub Al Anshari tidak jauh/hampir berdekatan dengan dinding/tembok Konstantinopel. Di sebelahnya ada masjid Sulthan Ayyub.
Jadi kalau ada pertanyaan siapakah sahabat Nabi yang kuburannya di Eropa? Jawabannya Abu Ayub Al Anshari. Memang pada zaman beliau wafat belum berhasil menaklukkan Konstantinopel, meskipun sudah menyerang benteng dan berada di dekatnya.
Ada satu peristiwa di mana saat benteng itu di kepung berhari hari, ada usulan salah satunya : “Kita akan bisa masuk ke benteng itu dengan senjata manjaniq (alat pelontar), namun pelurunya jangan peluru mati, harus manusia, sehingga saat sudah terlontarkan masuk, bisa mendobrak pintu benteng, dan pasukan bisa masuk. Hanya itu cara agar kita bisa masuk. Hanya masalahnyasopo wonge (siapa orangnya) yang mau dipakai sebagai peluru hidup.”
Saat itulah Abu Ayyub ngacung (unjuk jari) sayalah orangnya. Para sahabat yang lain mengingatkan bab usia beliau, apa kata beliau, “Setidak tidaknya kalaupun nanti saya dilempar dan tidak sampai kesana, setidak tidaknya saya sudah memberi contoh kepada anak anak muda inilah jihad itu.”
Kelak pada saat penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih dan sempat mengalami kebuntuan maka Sosok Abu Ayyub Al Anshary ini menjadi penggugah Semangat sehingga muncullah strategi Luar Biasa yang kemudian mengantarkan pada kemenangan Spectakuler. Bahwa yang tua tidak akan pernah surut dalam jihad ini, Dadi sing tuwo iki minimal ngekek’i conto.
Jadi kalau kita bicara tentang tarbiyatul aulad, itu ya tarbiyah kita dulu bagaimana. Kenek diconto opo ora (bisa dicontoh atau tidak?). Tarbiyah bapaknya, tarbiyah ibunya diperbaiki dulu, baru kemudian itu bisa dijadikan contoh. Sumber inspirasi bagi anak anak kita untuk aktif di dalam tarbiyah ini.
Minimal kita ini menampakkan wajah nikmatnya berdakwah ini di depan anak anak kita. Itu minimal. Artinya ketika kita pulang liqa’ usahakan wajah kita ketika dilihat anak itu nyenengno(menyenangkan). Berarti anak anak kita dapat inspirasi tarbiyah itu menyenangkan. Liqa’ itu menyenangkan. Yang tidak baik itu ketika pulang liqa’ dalam kondisi payah, pulang dauroah dalam kondisi wajah masam, awut awutan. Anak anak dapat inspirasi : tibake melu bapak iku gak enak (ternyata ikut Bapak itu tidak enak). Capek. Itu tampilan kita pribadi.
Sistem di sekolah kita, saat anak anak merasakan sekolah di sekolah internal kita, mereka merasakan beginilah sekolah yang sesungguhnya. Kembali kita mendapat inspirasi dari Abu Ayyub al Anshari minimalnya kita yang sudah tua tua ini memberikan contoh kepada yang muda muda bahwa semangat jihad ini tidak boleh luntur.
Perintah Menjaga diri dan Keluarga
Yaa ayyuhal ladziina ‘aamanu quu anfusakum wa ahliikum naaro. ‘Wahai orang orang beriman jaga dirimu dan keluargamu dari neraka.’
Ini manhaj tarbiyah kita.. Artinya jangan sampai anak anak kita masuk neraka (na’udzubillah), istri atau suami kita masuk neraka (na’udzubillah) gara gara kita lalai menjaganya. Kan berarti yang diamanati oleh Allah untuk menjadi penjaga, menjadi pengawal adalah kita, terutama di ayat ini secara langsung adalah suami.
Bagaimana kita menterjemahkan menjaga itu? Kalau kita lengah, abai dan kemudian terperosok ke dalam neraka. Harus ada upaya untuk menutup. Jaga makanan/minuman anak yang halal. Memastikan yang dikonsumsi anak anak itu halal. Itu menjaga. Melindungi, menjaga dan menjauhkan dari lingkungan yang tidak baik, yangberpengaruh negatif kepada keluarga kita. Itu bagian dari menjaga.
Menempatkan anak anak kita di tempat/sekolah/perumahan/tempat tinggal yang kondusif bagi akhlaqnya, ibadahnya terjaga hal ini juga bagian dari menjaga dari api neraka. Sehingga yang ditanya oleh Allah di akhirat nanti tentang anak anak kita itu bukan kepala sekolah SIT, bukan murobbi murobbiyahnya, tapi kita. Karena ayat ini kepada kita. Sing ditakoni mene nok akhirat itu orang tua. Mau menyalahkan siapa? Quu anfusakum (jaga dirimu) wa ahliikum (dan keluarga, khususnya anak anak) dari neraka.
Apalagi dengan hadits ini, “Maa min mauludin, illa yuwladu ‘alal fithrah. Fa’abawahu, yuhawidanihi, au yunashironihi, au yumajisaanihi” setiap bayi yang terlahir itu, semuanya lahir dalam keadaan fitrah. Fa’abawaahu (Bapak Ibunyalah), yuwahidaanihi (yang akan bertanggung jawab di dunia dan akhirat, kalau nanti anaknya yang fitrah itu menjadi Yahudi), au yunashironihi (atau menjadi nashrani), au yumajisaanihi (atau menjadi majusi). Itu penyebab utamanya adalah abawaahu(bapak ibunya).
Jangan menyalahkan siapa siapa. Bapak ibunya kemana selama ini. Makanya kaitannya dengan ayat tadi, bayi ini lahir dalam keadaan fitrah, Bapak Ibunya wajib menjaga tetap fitrah, Insya Allah tidak mungkin menjadi seperti yahudi, nasrani atau majusi. Tidak berarti hal ini pindah agama semata, namun perilakunya tidak ada beda dengan mereka. Tidak ada beda perilaku anak muslim dengan anak yahudi. Jadi fungsi penjagaan ini ada pada fa’abawaahu (Bapak Ibu).
Ayah Atau Ibu?
Tanggung jawab ada di pundak kedua orang tuanya. Terus kalau kita detilkan lagi, di Bapaknya atau ibunya? Kalau jawaban bapak bapak biasanya ya ibunya lah. Sebaliknya kalo jawaban ummahat ya bapak bapaknya lah yang bertanggung jawab. Saya tidak bermaksud membela siapa siapa. Tetapi kalau kita perhatikan, dialog dalam Al Qur’an yang melibatkan orang tua dan anak, semua dengan Bapaknya. Tidak ada yang dengan ibunya. Setuju ndak setuju ayatnya begitu. Ini bukan persoalan cocok atau tidak cocok.
Tidak ada satupun ayat yang menyebutkan ibu dengan anaknya dalam hal dialog kependidikan. Mesti bapaknya. Coba lihat percakapan: Ibrahim dengan Ismail, diskusi panjang. Antara bapak dan anak. Memang ada kisah Hajar dan Sarah namun tidak berdialoq dengan Ismail. Yang ada percakapan bapak anak. Waktu mau menyembelih ada dialog, waktu membangun Ka’bah juga bapak anak. Luqman dan anaknya kan tidak ada percakapan ibunya. Istrinya Lukman tidak disebutkan. Namun nasihat Lukman pada anaknya panjang, hampir sehalaman penuh. Dalam surat Lukman.
Siapa lagi? Imran. Bapak bapak juga kan? Kalau ini diambil sebagai sebuah pelajaran maka pelajaran itu justru Al Qur’an mengingatkan dengan berbagai contoh bahwa Bapak bapak harus memperbanyak contoh dan dialog. Memang ada masanya orang tua menjadi teman. Kalau kita ambil pendidikan anak yang diambil dari buku Pendidikan Nabi, 0-7 tahun anak dianggap sebagai raja, semua dituruti, 7-14 tahun anak sebagai tawanan perang semua harus diatur, mulai dikenalkan disiplin dan 14-21 tahun anak menjadi kawan, dan semua perlu didampingi. Jadi sekali lagi yang bertanggung jawab dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat terkait perilaku anak adalah kedua orang tuanya.
Pelajaran dari Ummu Sulaim saat menitipkan Anas bin Malik
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anh berkata:
Ketika Rasulullah datang di Madinah Ummu Sulaim membawaku kepada Rasulullah Saw, kemudian dia memberiku salah satu dari pakaiannya lalu (Ummu Sulaim) datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata “Wahai Rasulullah ini Anas dia anak yang Rajin dan pekerja keras yang akan membantumu, Nabi bersabda, “ Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, berkahilah ia dalam semua yang Engkau berikan kepadanya.” (HR Bukhari)
Hadits ini memberikan sebuah gambaran kepada kita tentang orang tua yang karena kesadaran akan pentingnya Tarbiyah untuk anaknya hadir menitipkan putranya untuk ditarbiyah, orang tua membangun komunikasi yang baik dengan Murabbi putra/putrinya, demikian juga sebaliknya Murabbi juga dengan suka cita menerima binaannya menyambut dengan doa yang demikian Luar biasa.
Ustadz Farid Dhafir, Lc.

Thursday, March 03, 2016

Ada 13 gaya bicara yg harus DIHINDARI

1. Memerintah
2. Mengancam
3. Menceramahi
4. Menginterogasi
5. Melabeli
6. Membandingkan
7. Menghakimi
8. Menyalahkan
9. Mendiagnosis
10. Menyindir
11. Memberi solusi
12. Menyuap
13. Membohongi

Selama ini, pengakuan dari para teman-teman peserta pelatihan (termasuk saya sendiri), dengan mengubah cara bicara, dll, manfaatnya terasa: respon anak positif, lebih nurut, masalah yang ada bisa teratasi. Sehingga kita lebih tenang dalam menghadapi anak dan ga banyak energi keluar utk ngomel. Syaratnya konsisten dan sabar, insyaAllah akan ada respon positif dari anak.

1. Memerintah.
Knp kok kita ga boleh memerintah anak (apalagi disertai bentakan)? Krn, anak jd pasif, ga mandiri, ga ada inisiatif/kreatif, dan ibu jg capek nyuruh2 terus.

Kalo kita ingin anak berbuat sesuatu, ajak, dan terangkan alasannya. ‘Nak, yuk sholat, mama temani’, ‘nak, yuk bereskan mainanmu, biar rmh rapi’. Insya Allah, lama2 akan trbiasa dan atas inisiatif sendiri anak akan melakukan hal2 itu.

Kebiasaan nyuruh2 bikin anak pasif. Misal nilai matematika jelek, jgn disuruh2 belajar atau les. Tapi, ajak bicara/diskusi, usahakan sampai anak menemukan sendiri apa sebab nilainya jelek, dan dia sendiri yg bilang ‘aku ingin les!’ jadi anak ada rasa tanggung jwb, dia les bukan krn ‘disuruh ibu’, tp krn dia merasa perlu les.

2. Mengancam
Para ibu paling ahli mengancam: “kalo gak makan, mama tinggal! Kalo nakal, mama kurung di kamar mandi!” Akibatnya, anak nurut karena takut, bukan karena kesadaran. Anak jadi penakut, mau saja diajak2 hal negatif sama teman2nya karena takut ancaman.

Ada yang bilang, sah-sah saja mengancam anak, toh Allah di Quran jg mngancam dg siksa yg pedih! Jwbnya: ancaman Allah itu kan hukum utk org yg baligh (sdh ada taklif). Utk anak2, kita sampaikan wajah Jamal (indah) Allah dulu.. Nak, sholat..supaya kita disayang Allah.. Nak, Allah itu baik, sudah kasih ini.. itu .. yuk kita berterimakasih.. caranya dg sholat.. Mnrt pnelitian, otak kiri dan kanan anak tersambung syaraf2nya pada usia 9 th, dan saat itu dia bisa mnghubungkan sebab-akibat yg abstrak (“ghaib
”). Jd saat itulah idealnya kita kenalkan “hukuman” Allah, bhw manusia2 yg tidak patuh akan mendapat siksa, masuk neraka. InsyaAllah dg proses ini, anak beribadah dg landasan cinta dan syukur, bukan semata2 takut pd neraka. Amin.

3. Menceramahi.
Jangan suka menceramahi anak ya bu.. Knp? Karena..coba inget2 lg, dulu wkt kecil, kalo diceramahi ibu/bpk..rasanya gmn? Bete, sebel, dan dlm hati bilang ‘sok tau banget!’ Atau ‘cerewet!’ Ya nggak? Lebih baik, ajak anak berdiskusi dalam suasana santai.

4. Menginterogasi
Terutama untuk anak remaja, gaya interogasi malah bikin mereka kesal dan semakin menjauh dari ortu. Anak pulang telat, ibu langsung bergaya polisi, “Darimana tadi? Sama siapa? Ngapain aja? Tadi habis les sama temen2, kalian mampir dulu di cafe ya? Kamu coba-coba ngerokok ya, kok bau rokok?!” Tujuan ortu tentu baik, tapi caranya yang kurang baik.

5. Memberi label/cap
Ibu sering ngomel: kamu lelet, nakal, bandel, ceroboh,dll. Kalo ibu marah biasanya ga puas kalo ga berkata, “kamu kok ga pernah nurut/dengerin ibu sih?!” Memberi cap akan membentuk citra diri anak. Ketika dia dikatai berulang2 bhw dia lelet atau bodoh atau bandel, dia lama2 akan merasa bhw dirinya memang demikian. Dan lama2 dia akan cuek, pasif, dan berpikiran “emang aku ya begini ini, situ mau apa?!”

Jadi biasakan ucapkan kata2 yg membentuk citra positif anak, puji anak sesuai apa yg dilakukan (berlebihan memuji juga tidak baik, akan membuat anak narsis). Ungkapkan perasaan ibu. Misal, “Nak, ibu kesal kalau kamu….”

6. Membandingkan.
Tujuan ibu membanding2kan anak adalah supaya anak termotivasi, “belajar yg rajin dong, kayak kakak..Liat kakak tuh, juara terus, kamu kok engga?”

Bu, ada bbrp kasus ekstrim yg ditemukan guru parenting saya, akibat ibu suka mmbandingkan. Salah satunya, ada prp dewasa, kena kanker parah. Saat diterapi, keluar masalahnya: dia selama ini tertekan krn sejak kecil ibunya ga pernah puas sama dia, selalu banding2kan dg kakaknya.

7. Menghakimi.
Contoh, kakak berantem sama adik, lalu ibu tanpa mau meneliti dulu langsung bilang “kakak jgn nakal sama adik!”, atau anak nilainya jelek, “ini pasti gara2 kamu main game melulu!” Tujuan ibu ngomong gini adalah utk mperbaiki perilaku anak, ya kan? Tapi sayang, cara ini ga ngefek. Anak akan merasa sakit hati (terutama kali dia merasa benar/dituduh secara salah). Lama2 dia merasa ga disayang, disalahin melulu..dst (efeknya akan mirip dg yg sy ceritakan kemarin). Ketika anak msh kecil, kk mgkn msh bisa kita kontrol. Tp ketika sdh remaja, jika komunikasi dg ortu ga bagus, anak akan menjauh dan lebih mndengar kata2 temannya.

Teknik paling ngefek dlm membangun komunikasi dg anak: bertanya (bukan menginterogasi lho) dan dengar jawabannya. Jadi jgn menghakimi, biarkan anak menyampaikan argumen, lalu giring dia utk ambil kesimpulan/penilaian atas perilakunya sendiri. Ini juga berdampak positif: melatih anak berpikir dan menyusun argumen.

8. Menyalahkan.
Ini sering banget kita lakukan dan terasa wajar. Misal anak numpahin minuman di karpet “ya ampun! Kok numpahin minum aja sih? Liat ni karpet jadi kotor! Hati2 dong!”

Mungkin kita bertanya2, emang anak salah, kok ga boleh disalahin? Problemnya ada di gaya bicara. Kalo anak salah ya kita kasih tau, tp bukan dgn menyalahkan (apalagi plus ngomel, marah, atau melabeli “dasar kamu memang ceroboh!”). Seperti sdh sy bilang sblmnya, tujuan kita belajar gaya bicara yg benar adalah agar komunikasi ortu-anak terbangun baik sehingga berbagai masalah besar di masa depan bisa dihindari. Anak yg disalah2in melulu akan tumbuh jd org ga pede, ga kreatif (selalu takut salah), mgkn jd pembohong (daripada disalahin, mending bohong aja),dll.

Ini musti dilatih supaya ibu2 terbiasa. Jd refleks saat anak berbuat kesalahan upayakan bukan berupa “menyalahkan”, coba ganti kalimat lain.. misalnya.. “waduuh.. jatuh ya.. ayo bantu ibu ngelap karpetnya.. ” (pokoknya tahan lidah, jgn sampai meledak nyalah2in). Saat itupun anak sdh tau kok kalau dia salah. Jg jangan ibu langsung bersihkan sendiri, libatkan anak, biarin dia ikut bersihin.ga bersih gpp, kan masih kecil.. Ibu b
antuin bersihkan (bareng2). Di sini ada yg dipelajari anak: menahan emosi (krn anak belajar dg meniru sikap ibu), bertanggung jwb, dan dia tau kalo ga jln hati2, ada akibatnya.

9. Mendiagnosis/menganalis.
Misal tadi, anak jatuh dan minuman di gelas tumpah ke karpet. Ibu ga marah tp bilang gini, “adek tadi pasti jalannya sambil ngelamun ya? Trus, jd ga liat nih ada mainan di atas karpet. Coba kalo td adek jln pelan aja, perhatiin kakinya, jgn sampi kesandung..pasti ga bakal tumpah nih susunya.. ”

Kebayang kalo ibu2 terbiasa ngomong gini..sampai anak remaja masih rajin menganalisis, pasti dlm hati mrk akan bilang “bawel amat sih enak gue! Sok tau banget!” Dlm kondisi gini, ga ngefek ibu2 nasehat ini-itu..krn di pikiran mrk sdh tertanam “ibuku sok tau!” Gawat kan?

Nah, yg sebaiknya dilakukan adalah BERTANYA (bukan interogasi ya). “Waduh..adek kok nilai matematikanya jelek?” (Biarkan anak mnganalisis sendiri..jgn lgsg bilang “ini pasti krn kamu males bikin PR!”) Bila komunikasi terjalin baik, anak terbuka curhat..misal mmg dia ga paham penjelasan guru.. Lalu tanya lagi : “menurutmu, jalan keluarnya apa ya?”

Jadi kalo akhirnya anak les, itu atas kesadaran si anak (dan dia jd senang mnjalaninya) bukan krn hasil analisis ibu “ini pasti gurumu emang payah.. udah, mulai besok kamu les aja!”

10. Menyindir.
Ibu2 sendiri kalo disindir org enak ga? Pasti kesel kan? sayangnya banyak jg ibu2 yg sukan nyindir orang.. juga nyindir anaknya. Anak2 yg disindir ibunya pun tetap sakit hati, merasa terhina, dan merasa disalahkan.

Contoh: anak lagi sibuk baca buku cerita, pdhl rumah berantakan atau blm cuci piring. Ibu sambil beresin rumah, bilang “duh, tuan putri, santai banget nih baca buku.. emang enak ya jd putri, ada pembantu yg ngurusin semuanya!”

11. Memberi solusi.
“Udah, kamu bobo aja, biar ibu yg beresin mainanmu.”… “ya, sini biar ibu yg bikinin prakarya-nya, kamu kerjakan PR yg lain”… Anak udh di sekolah, sms, buku PR ketinggalan..ibu buru2 nganter PR ke sekolah. Anak mau ujian, buku ga ketemu… sambil ngomel, ibu bantu cariin dan ketemu (kalo ga ketemu, ibu yg pinjem dari anak temennya, lalu ibu yg fotokopi). Sibuk bangeeeet.. ya kan?

Padahal, kita ibu2 nih udah banyak urusan:.masak, nyuci, ngitung duit belanja (dan stress kalo duit ga cukup), taklim, kerja, dll. Masa mau sih merepotkan diri utk hal2 yg seharusnya diurus sendiri oleh anak? Kebiasaan memberi solusi pada anak, selain merepotkan diri sendiri juga mendidik anak jd pribadi manja, bergantung ke orang, tdk bertanggung jawab, ga kreatif mencari solusi utk problemnya sendiri. Maka, stop berusaha jadi SUPERMOM yg selalu ingin kasih solusi.

Kalo ada masalah, ajak diskusi: menurutmu apa yg sebaiknya kamu lakukan? Bantu anak menemukan solusi masalah, biarkan dia berlatih mikir, bukan kita menyuapinya dg solusi. Saat dia sdh memilih solusi, fasilitasi, dampingi. Misal, anak ga  matematika. Tanya: mnrtmu, musti gmn ya? Kalo dia bilang ingin les, fasilitasi. Kalo ga ada uang, bilang ke anak, dorong dia mncari alternatif lain. Misal: aku mau belajar sama paman (kebetulan pamannya mhsw matematika), fasilitasi, misalnya dg cara anter ke rmh paman.

12. Menyuap.
“Kalau adek ga rewel nanti ibu beliin eskrim”.. “Ssst, main dulu sana. Nanti kalo tamunya dah pulang ibu kasih uang bwt beli mainan. Skrg jgn ribut ya! Malu sama tamu”. “Ayo beresin mainannya, ntar ibu kasih hadiah”.. Ehm… siapa yg pernah ngomong gini?

Ibu2… ini namanya menyuap ya. Kita skrg benci sama para pejabat yg makan suap.. tapi kadang kita lupa, sikap senang disuap itu ditumbuhkan oleh ortu… Jgn sampai anak2 kita besar jd penyuka suap, mau kerja kalo ada uang pelicin, dll..naudzu billah..

Tujuan kita menyuap adalah supaya urusan cepet selesai. Krn itu yg musti diingat: mendidik anak itu mmg butuh waktu.. makanya jgn sibuk dg urusan selain anak, biar banyak waktu. Jadi, kalo anak nangis, kita tetap tenang, ga tergoda menyuap. Lakukan antisipasi: saat mau ada tamu, bilang “Nak, nanti ibu ada tamu. Kamu yg tenang ya, jangan rewel. Ibu sayang pada anak yg sopan. Janji ya?” Siapkan segala macam mainan. Kalau anak r
ewel: introspeksi diri..jgn2 emang udah kelamaan ngobrolnya. Tegas saja ke tamu: duh, maaf, obrolannya kita sambung lain waktu ya.. Tapi kalo baru 5 mnt udh rewel, mgkn krn sering disuap, artinya anak ga tepati janji. Katakan baik2: ibu kecewa kamu ga tepati janji.. tlg tunggu 10 mnt lagi, ibu ngobrol dulu dg tamu, lalu main dgnmu. Dan 10 menit, tepati janji ibu. Anak akan belajar mnepati janji.

13 Berbohong.
Ada tamu, ibu males menemui,,bilang ke anak “bilang, ibu ga ada!”. Anak minta jajan, “ibu ga ada uang!” (Padahal ada, tp buat keperluan lain). Anak ga mau makan “ntar ditangkep polisi lho” (selain ngancem, jg bohong, kan polisi ga akan nangkep org yg mogok makan). Akibat dr bohong.. ya kita semua udahtaulah. Kita benci dibohongi (apalagi sama suami:D), masa kita latih anak kita jadi pembohong?!

Nah, sekian dulu.

Saran: utk selengkapnya, baca buku Amazing Parenting karya Rani Razak Noeman.

Sunday, February 21, 2016

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja....

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, "Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian." Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, "Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…"



Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….



Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga 'tonjok-tonjokan'….



Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, "Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…"



Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua isteri dan isteri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga isterinya dan isteri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…



Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau isteri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan isteri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…



Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang isterinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan isteri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..



Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang isteri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan isteripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan isterinya…



Keluarga akur itu sederhana saja; Jika isteri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa 'dibuntuti' sedangkan isteri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai...



Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada isteri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap isteri dan marahnya isteri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.



Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas isteri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan isteri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya.



Ust. Abdullah Hadir, Lc

Wednesday, February 10, 2016

MALU PADA SI GANTENG
-dan berjuang menjadi gagah-

by @salimafillah

Saya tercenung-menung membayangkan lika-liku hidup lelaki ganteng itu. Dia mengalami begitu banyak hal di masa lalu yang mungkin, -bagi ukuran psikologi kita hari ini-, dapat menjadi pembenaran untuk kelak berperilaku menyimpang.

Pertama; saat masih menjadi bocah kecil, sibling rivalry (persaingan antar saudara) di dalam keluarganya telah amat parah. Dengki kakak-kakaknya pada dirinya begitu tinggi. Kebencian pada adik sendiri itu meruyak menjadi permufakatan yang amat jahat.

Kedua; dia mengalami percobaan pembunuhan yang amat sadis, dilempar ke dalam sumur menjelang senja. Bayangkan sosok mungil itu direnggut dari Ayah & Bunda yang menyayanginya, terluka, sendirian, sempit, gelap, sunyi. Pengalaman semacam ini amat memicu trauma. Claustrophobia (takut pada ruang sempit tertutup) dan Auchlophobia (takut pada gelap) dapat menjadi gejala yang membayangi hidupnya.

Ketiga; dia menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Kafilah niaga yang tak sengaja menemukannya ketika mengulurkan timba ke dalam sumur bersegera menjualnya sebagai budak dengan harga amat murah.

Keempat; dia mengalami sexual abuse (kekerasan seksual) dari orang yang amat dihormatinya. Nyonya rumah yang muda & cantik itu mengurungnya di ruangan tertutup, menggodanya, & menarik bajunya hingga robek. Lalu ketika Sang Tuan pulang, wanita bertipudaya itu balik memfitnahnya.

Kelima; dia mengalami sexual harrasment (perundungan seksual); ketika dengan niat balas dendam atas pergunjingan para wanita bangsawan padanya, oknum istri pejabat yang menggodanya itu menghimpun sebuah perjamuan, memaksa sang bujang tampil dengan pesonanya di tengah mereka. Para wanita yang mengiris jari itu, memintanya melakukan 'sesuatu' yang dijawabnya, "Duhai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada melakukan apa yang mereka ajakkan padaku."

Keenam; kriminalisasi. Dia harus hidup dalam penjara bukan karena kesalahannya. Dari sebuah kehidupan bangsawan yang megah dan mewah dia dijerembabkan ke dalam sel yang sempit dan jorok. Dia menjalaninya dengan tetap berdakwah pada kawan sejerujinya.

Ketujuh; pengkhianatan. Kawan yang dinubu'atkannya akan bebas dan menjadi penuang minuman raja, telah dipesan agar menyebut tentang dirinya di hadapan sang penguasa demi tegaknya keadilan. Tapi kawan itu lupa. Bertahun-tahun lamanya.

Jikapun sampai di sini saja; bukankah cukup alasan baginya untuk merasa bahwa hidupnya hancur, untuk menyimpan dendam, untuk merasa dunia ini kejam, untuk menyalahkan berbagai pihak & hal, serta untuk melakukan sesuatu yang keji namun selalu ada pembenarannya?

Tapi si ganteng itu memang menakjubkan. Dia tampil untuk menjadi penyelamat negeri dari paceklik mematikan. Dia tampil menanggung amanah yang tak sanggup dipikul orang lain. Dia mampu mengampuni semua yang pernah berlaku buruk dan menjadi sebab segala jatuh bangun dan seak-seok hidupnya. Dia rangkul sebelas bintang, bulan, dan matahari yang hendak bersujud itu supaya bersatu dalam pelukan damai, silatil arham, dan kemaafan.

Si ganteng itu, Yusuf 'Alaihis Salaam.

Maka di awal hikayat Allah menyebut kisahnya sebagai ahsanal qosos "sebaik-baik ceritera". Maka di akhir penceritaan Allah menegaskan bahwa dalam sebaik-baik kisah itu terdapat 'ibrah, pelajaran bagi orang-orang yang mendalam pemahamannya.

Dan kita amat ingin belajar menjadi si ganteng yang amat gagah menghadapi segala ketentuan Allah pada dirinya. Gagah justru karena bersandar kepada Allah. Sebab kuat lemahnya seseorang tergantung siapa sandarannya.

Sepahit apapun hidup kita, segetir apapun pengalaman diri, separah apapun lika-liku yang kita lalui; Yusuf adalah hujjah Allah agar kita tetap gagah menghadapi hidup ini. Semua insan hidup dalam berbagai bentuk ujian. Barangkali bentuknya tak serupa. Pun pula kadarnya berbeda. Tapi hakikatnya tetap sama.

Kepada kawan-kawan yang diuji dengan SSA (Same Sex Attraction) misalnya, menarik mundur garis waktu mungkin memang membuat Anda menemukan pembenaran diri dan sesuatu yang dapat disalahkan. Tapi jalan yang gagah adalah untuk tetap kembali pada Allah, mendengarkan nurani, dan menyimak apa firmanNya tentang tetap nista dan buruknya jalan untuk jatuh ke dalam aktivitas LGBT.

Semua insan diuji baik ketika berhadapan dengan syubhat bagi fikirannya maupun syahwat bagi hawa nafsunya. Rekan-rekan yang normalpun diuji Allah dengan betapa maraknya perzinaan, dan betapa dahsyatnya 'aurat diumbar. Semua diuji, ketika di gadget kita, berpindah dari keshalihan pada kemunkaran hanyalah satu kali klik atau satu sentuh tap.

Maka dibanding mereka, ujian anda hanya ditambah satu hal lagi; bahwa goda-goda syaithani bukan hanya lewat lawan jenis, melainkan melalui yang jauh lebih dekat, lebih akrab, lebih samar, lebih liar, lebih menantang.

Maka jadilah gagah karena selalu terhubung kepada Allah. Jadilah gagah dalam fikir karena syubhat tentang keadaan kita telah disibak oleh Quran. Jadilah gagah dalam rasa karena syahwat yang hendak menarik kita dalam dosa telah selalu kita adukan dengan taubat nashuha dalam hening bersamaNya.

Dia yang memperjalankan Yusuf dalam sebaik-baik kisah, juga menjaminkan sebaik-baik akhir bagi yang berani bertarung untuk menaklukkan syahwat dan hawa nafsunya.

"Dan adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya; maka surgalah tempat tinggalnya." (QS An Naazi'aat [79]: 40-41)

Selamat berhijrah. Selamat berjihad. Selamat menjadi gagah dengan bersandar kepada Allah. Dan selamat menonton "Ketika Mas Gagah Pergi", ‪#‎kmgpthemovie‬, yang di dalamnya ada pesan Mas Fisabilillah untuk "Move on! Moving on where? To what Allah say yes! Yes untuk sesuatu yang lebih baik!"

*Sumber: fb

Friday, January 08, 2016

MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG (CERITA 2)


Tahun 2010 ketika saya bertemu mas Toro di salah satu bank BUMN terbesar, dia begitu bersemangat:
"Tenang mas, besok aku mau bikin Dokter Bakso, wis tak jamin rame.. Aku pun pengen jadi pengusaha!" Katanya
Saya hanya mringis saja.. Hehe
Aah paling basa basi karyawan bank yang pengen punya usaha..
NATO, No Action Talk Only.. Hehe
Nggedabusss.. Nggambleh thok!
Waktu berlalu, 4 tahun tak bertemu tiba-tiba saya ketemu mas Toro di sebuah resepsi nikah, wajahnya begitu cerah prengas prenges. Ketika saya todong mana Dokter Baksonya?
"Allah menunjukkan jalan lain yang lebih luarrr biasa mas, besok aku ceritakan"
Beberapa waktu lalu saya kerumahnya, tercenung mendengar kisah dramatisnya.
"Sudah tiga tahun aku resign dari Bank itu mas, posisi sudah mapan dengan gaji 10 juta perbulan, setahun aku bisa menerima bersih 200 juta termasuk bonus-bonusnya, namun dalam hati terdalam aku gelisah luar biasa, hutangku menumpuk 450juta, kartu kreditku platinum hutangnya puluhan juta. Dan aku setiap hari berkeliling menawarkan hutang-hutang baru kepada nasabahku. Ada yang mengganjal dalam hatiku ketika membaca ayat-ayat Quran tentang riba, ditambah dengan nasabah-nasabahku yang kelimpungan ketika bisnisnya merugi dan tidak bisa membayar cicilan, pihak bank tidak mau tau tetap ditagih untuk membayar.. "
Saya terdiam, karena sayapun pernah mengalaminya. Ketika jatuh tempo membayar terlewati satu hari saja mereka sudah menelpon dan SMS tiada henti.. Risihnya setengah mati. Mereka gak peduli kalo uangnya masih diputar untuk beli bahan baku dan operasional sana sini.
Lanjutnya,
"Bismillah.. Aku niatkan pada Allah membersihkan diri mas, aku resign dari bank ditengah pertentangan kawan dan keluarga, uang pensiunku hangus, aku hanya punya keyakinan.. ALLAH TIDAK AKAN INGKAR JANJI"
Nekat bener ini orang..
"Aku bilang pada istriku mas, rumah kami akan kujual.. Kita ngontrak dulu, kita mundur selangkah untuk melompat maju. Uangnya aku gunakan untuk beli tanah, aku bangun rumah petak dan mulai aku jual. Alhamdulillah langsung laku. Hasil penjualan aku belikan tanah lagi, bangun jual lagi. Begitu seterusnya. Dalam 2 tahun hutangku lunas mas.. Aku sudah bisa membeli rumah ini cash. Semua hutang kartu kreditku juga lunas"
Wow.. Terus?
"Ketika kita yakin seyakin yakinnya dengan kekuasan Allah, kita niat membersihkan diri, jalan akan terbuka luas mas. Tahun lalu aku membeli tanah di dekat Jogja Expo Center, kudiamkan saja. Aku hanya di rumah, anter anak sekolah.. Tiap adzan aku langsung ke Masjid sholat berjamaah. Pokoknya tidak boleh telat.. 10 bulan kemudian tanah itu ditawar orang, aku lepas untungnya 900 juta. Sekarang coba mas, pekerjaan apa yang bisa memberiku gaji sebesar itu dalam 10 bulan?. Aku hanya punya keyakinan ingin bebas riba, ngikut aturan Allah.. Dan sungguh Allah tunjukan jalannya, Allah tidak ingkar janji mas.."
Obrolan siang itu sudah memecah konsentrasi dan rasanya seperti meledakkan kepala, ketika mas Toro mengantar saya ke depan rumahnya, Panther terbaru sudah ada disana.
"Empat tahun lalu aku hanya karyawan bank dengan motor tiger itu, ketika aku ngikut pada aturan Allah, ternyata benar-benar Allah tunjukkan jalannya.. Rejeki itu adaaaa saja, pintu-pintu kemudahan terbuka.
Rumah ini aku beli 500jt, renovasi sedikit habis 100juta, sekarang sudah diatas 1 milyar nilainya.."
Katanya dengan tersenyum, jenggotnya tumbuh, bekas sujud samar di jidatnya..
Lain hari seorang ustadz mengirim capture dari seorang pengusaha di Bogor yang juga melepas aset-asetnya. Dijual demi melunasi hutang, tak peduli lah dengan gaya hidup dan pamer kemewahan kalo itu hanya utangan. Semu dan palsu belaka..
Bener kalo ada yang pernah mengingatkan, bisnis itu bukan hanya soal untung rugi, tapi surga atau neraka..
Satu pesan Nabi yang menampar kita, tinggal kita mau taat atau terus melawannya:
"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya.. memakan RIBA"
-HR Bukhari & Muslim
Maha Benar ALLAH dengan segala firmannya..
@Saptuari
---------
*banyak yang penasaran dengan sosok mas Toro, dikira sosok fiktif. Setelah saya konfirmasi beliau bersedia ditampilkan wajahnya, dan bersedia menjawab jika ada yang mau bertanya.
Nama Panjangnya mas Guntoro, mantan bankir senior yang kerja belasan tahun di salah satu bank BUMN terbesar.
Ini foto dengan mas Guntoro ketika saya undang jadi tamu di acara Kongkow Bisnis di Radio Geronimo FM Jogja.

Semoga menginspirasi..

Wednesday, January 06, 2016

MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG


Kawanku di Jakarta hijrahnya gak tanggung-tanggung, rumahnya yang masih KPR dijual, Honda Jazz putih yang dulu perlente dipakainya pun dijual. Sekarang tinggal di rumah kontrakan, memulai bisnis baru yang sangat berbeda dengan bisnisnya yang dulu.
"Sap, ketika aku menjual semua asetku dan hutangku lunas, ada perasaan plong di hati yang tidak ternilai, bangun pagi rasanya bebasssss... Tak ada sedikitpun mikiran cicilan ini itu lagi. Sebulan kalo dapat uang 20jt, duitnya ya utuh, kebutuhan keluarga paling 5 juta dah cukup.. Gak ada lagi kertas-kertas tagihan dengan nominal dan beban bunga yang bikin nyesek! Dan Allah tidak pernah ingkar janji.. Aku bisa memulai bisnis lagi, bangkit lagi, tanpa harus hutang disana-sini"
Senyumnya begitu lepas.. Tanpa beban.
Kawanku lainnya di Jogja, pengusaha advertising memilih tak pernah tanda tangan apapun dengan surat hutang. Mobil sudah ada dari kantor untuk operasional, wira wiri dia masih setia naik motor, kalo ku goda
"wis dadi boss mbok numpak mobil Mas"
jawabnya cukup sesederhana ini:
"ah Valentino Rossi yang kaya raya aja naik motor kok"
Penghasilannya sebagai pemilik bisnis, penulis buku, dan inspirator di berbagai seminar tentu gampang kalo untuk datang ke dealer, tanda tangan surat hutang, DP 30% dan langsung bawa pulang Innova pun bisa. Tapi itu tidak dilakukannya.. Tetap naik motor, tapi kemarin beli iPhone 6plus harga 14 juta pun cash, beli MacBook puluhan juta pun cash, iPad malah ada yang ngasih.
"Mas aku mau beli rumah nih, tapi cash gak mau hutang.. Sekarang terus ngumpulin uang, ketemu yang cocok bayar.."
"Enak lho gak punya hutang, sholat juga tenang, gak kemrungsung, naik motor juga woles aja tuh.. Gak takut dikuntit debt colector, di rumah juga santai gak ada penagih hutang gedor-gedor rumah" lanjutnya
Mmmm.. Gitu yaa
Ada lagi anak muda yang baru kukenal di Jogja, bisnisnya baru dua tahun tapi tumbuh luar biasa, bangkrut di bisnis jualan jus usai jadi sarjana, sempat galau lalu bangkit dengan bisnis ayam gepreknya. Join dengan kawannya, kerja bareng-bareng memulai usaha, fokus, tekun, gak neko-neko.. Sekarang sehari omzetnya tembus 13-15 juta. Kutanya langsung isi dapurnya, dengan omzet segitu sebulan dapat profit bersih berapa?
"Alhamdulillah mas, bulan kemarin bersih dapat 97 juta"
Wow!!!
"Kalian punya hutang di bank?" Tanyaku
"Sejak awal bisnis kami tidak pernah berhutang, setiap ada untung kami gak ambil, diputer terus, digulung terus, puter lagi, sampai sekarang punya 3 cabang. Kami ingin fokus di bisnis mas, bukan di hutang..."
Anak muda dengan profit nyaris 100jt sebulan itu tetap naik motor ketika berlalu dari hadapanku..
Wahai.. Wahai..
Wahai dirimu yang masih berprinsip hutang itu mulia, numpuk hutang disana-sini, bangga banget dengan aset hutangan yang dipamerkan di semua sosmed, agar dapat label "sudah saksesss!!" dari kawan dan orang sekitar,
inget... kalo engkau tidak mampu membayar hutang akan masuk kategori gharim..
Layak dan berhak dizakati..
Mendapat bagian 2,5% dari harta orang lain seperti fakir miskin.
Mau?
Dan aku jadi saksi, ketika berkeliling kota-kota bertemu dengan banyak pengusaha yang dulu bangga dengan aset-asetnya, sekarang datang dengan wajah murung dalam jeratan hutang tak berkesudahan..
Masih mau terus hidup dalam kepalsuan?

@Saptuari

Monday, January 04, 2016

::: APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN ? :::

Oleh :
Ustadz Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى

Saudaraku saudariku…

Kenapa kita takut untuk menghadapi kematian ?
Padahal kita semua yakin bahwa suatu hari ia akan datang menjemput kita
Mau tidak mau, suka tidak suka… pasti !
Kenapa kita takut untuk menghadapi sesuatu yang pasti ?

Saya rasa semua memiliki jawaban yang bermacam-macam:

Amalnya masih kurang ?
Masih banyak dosa ?
Kesihan sama anak-anak ?
Belum menikah ?
Belum mencapai cita-cita ?

Pada suatu hari seorang tabi’in Abu Hazim Salamah bin Dinar ditanya oleh Khalifah pada masa itu: Sulaiman bin Abdil Malik.

يا أبا حازم ما لنا نكره الموت؟

قال: لأنكم عمرتم دنياكم وخربتم آخرتكم فأنتم تكرهون أن تنتقلوا من العمران إلى الخراب؟

“Wahai Aba Hazim, kenapa kita membenci kematian ?
Maka beliau berkata, “Karena kalian memakmurkan dunia kalian dan merusak akhirat kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari tempat yang makmur ke tempat yang rusak dan terbengkalai”.

SubhanAllah!

Itulah realitanya….
Kita sibuk-sibuk untuk membangun dunia kita
Dari pagi sampai sore, sampai malam untuk dunia
Mau tidurpun masih dunia
Bangun tidur tetap dunia…

Sehingga kita memiliki rumah, mobil, keluarga dan tabungan yang banyak

Sedangkan untuk yang setelah kematian…
Hanya sedikit dari harta kita…sedikit sekali dibanding dengan yang kita simpan
Dilihat dari waktu yang kita gunakan untuk membangun akhirat kita
Sangat sedikit sekali, dibanding dengan waktu kita untuk dunia kita…

Kalau seperti itu…

Pastilah kita takut, untuk berpindah ke rumah yang belum jadi
Tiada taman
Tiada kawan
Tiada makanan
Bahkan yang ada adalah azab dan siksa

Karena kita mencuekinnya…
Tidak merawatnya
Tidak membangunnya

Sepertinya, kita sudah harus mulai merenung kembali kehidupan kita.

Mainan Itu Bernama Dunia

Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa anak-anak. Waktu yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, "Koq  bisa begitu ya efeknya? Padahal  kan  cuma mainan biasa yang remeh ?! ". Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.

Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah 'kedewasaan' dia dalam beriman.  Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia.  Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih 'kekanak-kanakan '. [1]

Allah  ta'ala  menggambarkan kenyataan dunia dalam firman-Nya,

"وما الحياة الدنيا إلا لعب ولهو وللدار الآخرة خير للذين يتقون أفلا تعقلون"

Artinya:  "Kehidupan dunia ini  hanyalah permainan  dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti? ".  QS. Al-An'am (6): 32.

Aplikasi Teori

Begitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;

Pertama:  Jangan terlalu sedih saat kehilangan dunia

Ilustrasi yang kami tampilkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.

Kedua:  Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)

Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah  "mampir Ngombe"  begitu kata orang Jawa.

Hadits shahih berikut  insyaAllah  membantu kita untuk memahami konsep barusan.

Ibnu Mas'ud  radhiyallahu'anhu  bertutur,

"نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير فقام وقد أثر في جنبه, فقلنا:" يا رسول الله لو اتخذنا لك وطاء ", فقال:" ما لي وللدنيا? ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها ".

"Suatu hari Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat ia bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuat kasur untukmu?".

Beliau menjawab, "Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya ".  HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini  hasan sahih.

Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia ...💖

Wednesday, December 30, 2015

Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Sukses dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?

Ada anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.

Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.

Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.

Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 mengeluhkan tentang penghasilannya yang katanya tidak mencukupi. Ketika saudaranya yang masih dalam lingkup satu institusi dinaikkan sementara saudara lainnya tidak naik. Gelombang protes muncul dimana-mana. Muncul istilah-istilah yang terkadang membuat kening ini berkerenyut. Anak Tiri, Bawang Merah – Bawang Putih atau istilah lainnya yang membuat kita tersenyum sendiri.

Setidaknya ada tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu. Yaitu : The Power of Kepepet , The Darkness of Gengsi dan The Magic of Street Smart.

Faktor # 1 : The Power of Kepepet.

Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.

Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP.  Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.

Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya
mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.

Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet-kan” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.

Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk ZONA NYAMAN (COMFORT ZONE). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati. Itulah sebabnya tidak banyak PNS yang berani Resign untuk mengambil keputusan besar meraih kesuksesan YANG LEBIH BESAR. Karena COMFORT ZONE telah merasuk kedalam jiwa dan sanubarinya yang paling dalam. Jadi PNS saja sudah alhamdulillah. Gak usah neko-neko. Nggolek dunyo gak ono entek e. Nek metu juga durung karuan. Nek gak nduwe duit yo nyilih koperasi sih entuk. Bank-bank juga gelem karo SK PNS kok. He he he he... Hidup itu pilihan. Itulah bahasa penolakan yang sering kita dengar.

Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun –untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.

Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi.

Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan. Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.

Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.

Lulusan S1 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lah, masak saya harus keliling kepasar-pasar
jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah, bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).

Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.

Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.

Faktor # 3 : The Magic of Street Smart.

Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika-liku. Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – KECERDASAN JALANAN yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.

Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski Cuma lulusan SMP.

Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).

Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orang-orang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.

Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih sukses dibanding lulusan S1 dan S2 :

The Power of kepepet,
The Darkness of gengsi, dan
The Magic of street smart.

Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Selamat Pagi.
Selamat Beraktivitas.
Semoga Segala Aktivitas kita hari ini bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.

#penulis: dwiprahoroirianto

Monday, December 28, 2015

"SALMON DAN HIU"



Pada menu ikan masakan Jepang, ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup, saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sudah diawetkan dgn es.



Itu sebabnya para nelayan Jepang selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon² tsb tetap hidup.



Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di dalam kolam buatan tsb. Bagaimana cara mereka (nelayan Jepang) menyiasatinya?

Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di dalam kolam tsb.



Sungguh Ajaib..! Hiu kecil tsb "memaksa" salmon² itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu kecil tsb.



Akibatnya banyak ikan salmon yg tetap hidup & jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit..!



Diam membuat kita Mati...!

Bergerak membuat kita Hidup...!

Lalu, Apa yg membuat kita Diam?



Saat tidak ada masalah dlm hidup dan saat kita berada dlm zona nyaman.



Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena.

Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati..!



Dan..., Apa yg membuat kita bergerak..?

Masalah..., sekali lagi..., Masalah....!

Tekanan Hidup.., dan Tekanan Kerja...



Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu...



Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa...



Jangan lupa...,

bahwa kita akan bisa belajar banyak dlm hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup...



Itu sebabnya syukurilah kehadiran "hiu kecil" yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive *dan menyerahkannya pada Tuhan.

NEVER GIVE UP!!! Tetap semangat...

Semoga bermanfaat...



Mudah mudahan ini bisa menjadi pengingat untuk kita semua ...

Sunday, December 27, 2015

Taujih Dr. Salim Segaf Al Jufri



Memaknai Arti Berkah.



Barokah atau berkah adalah kondisi yang diinginkan oleh hampir semua hamba yang beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup.



Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatanmu kepada الله dengan segala keadaan yang ada, baik berlimpah atau sebaliknya.



Barokah itu: "...albarokatu tuziidukum fii thoah." Barokah itu menambah taatmu kepada الله.



Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub عليه السلام, sakitnya menambah taatnya kepada الله.



Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair.



Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan الله ...tiada banding....tiada tara.



Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah makan.



Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama الله.



Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.



Anak² yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak di antara mereka ada yang lebih shalih & tak henti²nya mendo'akan kedua Orangtuanya.



Semoga segala aktifitas kita hari ini barokah.

.

بَارَكَ اللهُ فِيْك



"Barang siapa yg mengajarkan satu ilmu dan orang tersebut mengamalkannya maka pahala bagi orang yang memberikan ilmu tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut.

Tuesday, December 01, 2015

FAKTA TENTANG GAZA PALESTINA

1). Ternyata warga negara asing
yg disegani olh warga disana
adalah warga negara Indonesia !
Selain karena INA adalah
negara dg jumlah penduduk
muslim terbesar di dunia (semoga
warga Palestina tdk mengetahui
kondisi keIslaman Indonesia
supaya tdk kecewa :-P ), juga
karena Indonesia selalu
memberikan dukungan moriil
dibandingkan dg negara lain,
baik negara di Timur Tengah lain
sekalipun. Tapi skg sudah mulai sedikit demi sedikit ada perubahan Alhamdulillah...

2). Walaupun tinggal di area
konflik, anak-anak di Gaza tidak
ada yang trauma sedikitpun.
Wajah mereka selalu riang &
ceria!.

3). Ternyata rata-rata pendidikan
minimal warga sana adalah S2 !.

4). Saat mengunjungi panti org
cacat, disana juga para
penghuninya juga tdk ada yang
murung. Semuanya menampakkan
wajah ceria! Yg mereka yakini
adalah bagian tubuh mereka yg
tidak ada telah mendahului mereka
ke Surga.

5). Rata2 masyarakatnya
hafidz 30 juz. Kalau di Indonesia ??? Yukk Semangat Belajar Qur'an...

6). Rata-rata ibu-ibu disana tdk
tidur sebelum membaca 3 juz al
Qur’an!.

7). Saat komisi X DPR kesana tahun 2014,
mereka sempat mengunjungi
penjara hasil tawanan Israel. Dan
ternyata disana berisi ibu-ibu dan
anak Palestina yg dikurung
dengan dakwaan yg tdk jelas
alasannya. Dan hukuman untuk
mereka rata-rata tdk logis. 1000
tahun penjara! Sebegitu takutkah
Israel terhadap Palestina?

8). Setiap anak kecil yg ditanya,
mereka bercita2 mnjadi
pasukan Izzuddin Al Qasam &
syahid di jalan Allah

9). Angka kelahiran selalu sama
dg atau lebih besar dari
angka kematian. Setiap lahir hampit selalu Kembar kembar 5 , 7. Masya Allah...
Tanah yg takkan kekurangan Pejuang!

10). Sebagian dari warga dunia
mengira rakyat Palestina
memperjuangkan ‘tanah kelahiran
mereka’. Nyatanya jawaban
mereka adlh, ’ kami disini
memperjuangkan tanah yg
memang ditakdirkan untuk umat
Islam. Hnya saja karena kami
lah yg ditakdirkan untuk lahir
disini, makan kami lah
berkewajiban untk melindungi
tanah umat Islam ini’ .

11). Di sana tdk ada pupuk.
Namun ternyata semua hasil
pertaniannya adalah grade A.
Grade terbaik! Memang, tanah
akan kian subur dengan darah para Suhada

Friday, November 27, 2015

SEKOLAH 'KNOWING' vs SEKOLAH 'BEING'.

Suatu hari sy kedatangan seorang tamu dr Eropa. Sy menawarkan kepadanya melihat2 objek wisata kota Jakarta.

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman sy ini selalu berusaha utk mencari zebra cross. Berbeda dgn sy dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang dimana saja sesukanya.

Teman sy tetap tdk terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross setiap kali akan menyeberang. Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn zebra cross.

Yg lbh memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang. Teman sy geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya sy coba menanyakan pandangan teman sy ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.

Sy bertanya mengapa orang2 di negara kami menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah utk menyeberang jalan. Sementara dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dgn zebra cross.

Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya, "It's all happened because of The Education System."

Wah, bukan main kagetnya sy mendengar jawaban teman sy. Apa hubungan menyeberang jalan sembarangan dgn sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasannya,
"Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan anak2 kita menjadi makhluk 'Knowing' atau sekedar tahu saja, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak anak2 menjadi makhluk 'Being'.

Apa maksudnya?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal utk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yg diketahui sebagai bagian dr kehidupannya.

Anak2 tumbuh hanya menjadi 'Makhluk Knowing', hanya sekedar 'mengetahui' bahwa:
- zebra cross adalah tempat menyeberang,
- tempat sampah adalah utk menaruh sampah.

Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah sembarangan.

Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, pressure & akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak hal yg diujikan,
tetapi tak satupun dr siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.

Di negara kami, sistem pendidikan benar2 diarahkan utk mencetak manusia2 yg 'tidak hanya TAHU apa yg benar tetapi MAU melakukan apa yg benar sebagai bagian dr kehidupannya'.

Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:
1. Basic Sains.
2. Basic Art.
3. Social.

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya. Anak2 ini jg tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk 'Being', yakni manusia2 yg melakukan apa yg mereka tahu benar."

Wow!

Betapa sekolah begitu memegang peran yg sangat penting bagi pembentukan perilaku & mental anak2 bangsa.

Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yg hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.

Kita mestinya lebih mengarahkan pendidikan utk mencetak generasi yg tidak hanya sekedar TAHU tentang hal2 yg benar, tp jauh lebih penting utk mencetak anak2 yg MAU melakukan apa2 yg mereka ketahui itu benar, mencetak manusia2 yg 'Being'.

Apakah tempat anak2 kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan & kurikulum yg akan menjadikan anak2 kita utk menjadi makhluk 'Being' atau hanya sekedar 'Knowing'?

'Mengetahui Yang Benar' tetapi 'Tidak Pernah Melakukan Dengan Benar' sama dengan 'Tidak Mengetahui'.

Semangat ya all 💐

Wednesday, November 25, 2015

Hati Yang Jauh...

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : 'Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?'

Salah satu murid menjawab : 'Karena kehilangan sabar, makanya mereka  berteriak'

'Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di depannya?'
'Bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?' Tanya sang Syeikh menguji muridnya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh  berkata : 'Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya.  Karena jarak kedua hati semakin jauh'

'Begitu juga sebaliknya , di saat kedua insan saling jatuh cinta?' lanjut sang Syeikh.

'Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat'

'Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?' Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya , mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi'

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : 'Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh'

'Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh'

Rasa syukur dan ucapan terima kasih seorang murid kepada gurunya


Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul.
 Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap.
Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu?
 Berbagai plakat penghar gaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil.
Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.
Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah.
Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.

Kini masa itu sudah lewat.
Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh.
Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota.
 Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.
“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat.
Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!” (sampai butut gak akan laku) kata pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ?
 Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik.
Bukan di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjawab.
 Itu pula yang sedang dipikirkannya.
Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu?
 Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.“Saya butuh uang.”
“Apa isteri atau anakmu sedang sakit ?”

“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”
“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”
“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”

“Habis buat nyicil motor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .

“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.

“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”

Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.

Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya.

Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.
“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya dengan supirnya, ia sepertinya lelaki berduit yang kaya raya.

Pak Hamid tiba-tiba berharap.
“Ya...ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.

“Berapa bapak jual setiap satuannya?”
Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”
“Berapa, Pak?”

“Eee...tiga ratus ribu.”

“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”

Hah?? Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.

“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya ...”

Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam guru matematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.

“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”

“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.

“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yang berdiri megah tak jauh dari situ.

“Ya...ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.

Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.

Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.

“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.

Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.
Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.

“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”

Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan...plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.
Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.

"Pak Hamid yang saya cintai,Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak."
Suryo, lulusan tahun 76.

Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.

*******
Terima kasih tak terhingga untukmu guru-guruku ustadz2 dan ustadzah2 ku (dosen-dosenku) tercinta..., jasamu sungguh tak ternilai bagi kami..... Semoga pahala terus mengalir kpdamu para guruku, para ustadz wa ustadzah (baik yg msh hidup maupun yg sdh tiada) sampai hari persidangan nanti di padang mahsyar krna engkau telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kpda kami.